Mahasiswa kok kalah sama OSIS :p



Video yang direkam tahun 2008 ini, baru diunggah kepublik pada 19 Agustus lalu oleh akun youtube yus uda sedikit dari kita yang tahu, video ini sempat membuat saya bahagia sekaligus haru. Bangga karena ada generasi muda yang berani menjebol system yang dzolim(merusak), haru harena tidak terjadi dikampusku. Walau pun status meraka siswa SMA(pada tahun 2008) mereka berani membongkar praktek korupsi di lingkungan sekolah mereka, dengan diawali dengan keingin tahuan transparasi dana kegiatan organisasi.
Namun, kita? Setingkat Mahasiswa dengan sederet julukan yang membusungkan dada(Agent of change, iron stock, moral force dan entah apalagi sebutannya yang disebutkan dari Bahasa asing), yang dianggap manusia-manusia yang terdidik/berintelektual tak mampu mempertanyakan “Berapa dana yang diterima yayasan? Berapa dana yang dialokasikan kepada kegiatan mahasiswa?”  intinya mempertanyakan transparasi dana yang telah setiap semester kita bayarkan. Masa BEM kalah dengan siswa SMA yang mempertanyakan anggaran mereka dipotong semaunya. Tidak usah banyak ketikan langsung saja liat videonya dibawah ini:

[Impian] Badan Eksekutif Mahasiswa yang Hendak Kita Wujudkan (Bagian 2)


HIDUP MAHASISWA..!!!
“sudah habis waktu tuk mengabdi kepada Almamater ini, keadaan tak mendukung untuk berbuat lebih. Semoga tulisan(pemikiran/gagasan) ini dapat menjadi peta(gambaran) serta bekal untuk membantu adik-adik berjuang dimasa yang akan datang…MERDEKA!!!”
Pada tulisan sebelumnya saya menuangkan gagasan tentang program jangka panjang (Disini) yang dapat digunakan untuk membangun pergerakan, pengkoordinasian dan cipta kondisi alur kerja(Birokrasi) organisasi Lembaga eksekutif tingkat Universitas (BEM Kema Tel-U) dalam jangka empat tahun. Jika dianalogikan kita ingin membangun sebuah rumah, maka kita harus memulai membangun pondasi rumah terlebih dahulu. Maka selama empat tahun ini kita membangun pondasi yang kuat, agar dikemudian hari rumah yang kita bangun ini kokoh dalam menghadapi badai dan guncangan.
 Setelah pondasi yang kita bangun ini sudah kuat, maka tahap berikutnya kita serahkan kepada generasi- penerus untuk meneruskan membangun rumah(Tel-U) agar dapat menjadi sebuah rumah perjuangan yang nyaman serta kondusif untuk memajukan Almamater, Kesejahteraan rakyat dan Bangsa Indonesia.

[Impian] Membangun Kampus Melalui Lembaga Eksekutif (Bagian 1)



Hidup Mahasiswa!!!
Melihat dari kinerja sejauh ini, BEM kema Tel-U(kabinet 2014, Kabinet 2015 maupun kabinet 2016) menurut opini saya belum mampu membentuk lingkungan kampus yang ideal untuk membuat perubahan yang sangat signifikan terhadap permasalahan diinternal(atau mungkin angan-angan saya yang kentinggian, hehehhe). Bahkan banyak terdengar suara sumbang dari mahasiswa bahkan dari beberapa lembaga internal kampus pun ikut-ikutan berbisik atas ketidak puasan mereka terhadap kinerja BEM kema Telkom yang sudah berusia hampir tiga tahun ini.
Jika dilihat dari usia yang hampir menginjak angka tiga tahun, maka seharusnya BEM kema Telkom sudah mampu membuat dasar pondasi yang kuat untuk memulai menjalankan program-program kerja jangka panjang yang selaras dengan visi/misi institusi. Dari pandangan saya, kongres mahasiswa yang dilaksanaka pada awal tahun mampu menghasilkan kesepakatan sebuah blueprint program kerja kontinu (program kerja jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang).
Program kerja yang dibuat untuk pembangunan yang maksimal, jadi saat pergantian presiden tidak selalu dimulai dari awal, melainkan meneruskan program kerja jangka panjang yang sesuai kebutuhan dan tujuan dibentuknya KEMA tel-u. Presiden mahasiswa yang baru dilantik dapat melaksanakan program-program kerjanya selama jabatan, namun harus ikut serta pula mensukseskan program kerja jangka panjang yang telah menjadi hasil kesepakatan didalam kongres mahasiswa diawal tahun.
Mungkin saya akan sedikit bercerita tentang angan-angan saya untuk gambaran jangka panjang untuk BEM Kema Tel-U yang saya cintai ini:

[Resensi] Resensi Novel Matahari - Tere Liye

Judul : Matahari
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Gramedia
Tebal Buku : 500 halaman; 13.5 x 20 cm
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2016
Harga : Rp. 79.000 (http://tbodelisa.blogspot.com/)

Sinopsis Buku:
Namanya Ali, 15 tahun, kelas X. Jika saja orangtuanya mengizinkan, seharusnya dia sudah duduk di tingkat akhir ilmu fisika program doktor di universitas ternama. Ali tidak menyukai sekolahnya, guru-gurunya, teman-teman sekelasnya. Semua membosankan baginya.
Tapi sejak dia mengetahui ada yang aneh pada diriku dan Seli, teman sekelasnya, hidupnya yang membosankan berubah seru. Aku bisa menghilang, dan Seli bisa mengeluarkan petir.
Ali sendiri punya rahasia kecil. Dia bisa berubah menjadi beruang raksasa. Kami bertiga kemudian bertualang ke tempat-tempat menakjubkan.
Namanya Ali. Dia tahu sejak dulu dunia ini tidak sesederhana yang dilihat orang. Dan di atas segalanya, dia akhirnya tahu persahabatan adalah hal yang paling utama.

Siapakah Diriku?

"Siapa diriku?"
Pertanyaan yang sejak dulu belum mampu aku jawab dengan lugas dan tandas, siapa diriku ini? apakah aku ini adalah diriku yang sebenarnya? Atau hanya replica dari diri orang lain yang aku kagumi, atau kah diriku saat ini adalah diri orang lain yang meminjam tubuhku sejenak lalu berubah kembali? Siapa Aku? Siapa Diriku? Apakah Aku adalah diriku? Apakah diriku bukanlah Aku? Jika Aku adalah diriku dan sebaliknya diriku adalah Aku, mengapa tidak sedikit dari kita yang menolak diriku sebagai Aku?
Pernahkah mendengar ungkapan seperti, “Maaf, Aku tidak bermaksud demikian..” Bila, Aku tidak bermaksud melakukan sesuatu, jadi siapa yang melakukan itu? Diriku, tapi bukan Aku, bukan? Setidaknya, sampai di sini Aku bisa dipahami berbeda dengan diriku, karena Aku tidak selalu sejalan dengan diriku. Karena itu, Siapa Aku? Siapa diriku? Mungkin saja diriku yang sebenarnya adalah diriku yang berada didalam cermin setiap kali aku berkaca memandang tubuh ini? entahlah hanya tuhan yang mampu menjawab siapa diriku sebenarnya ini.

May Day 2016, Buruh berjuang sendiri? Dimana Mahasiswa?





Hidup Buruh!!!
Hidup Rakyat Indonesia!!!
Merdeka!!!
Hari ini hari dimana seluruh buruh sedunia turun kejalan bukan hanya memperingati hari buruh Internasional, bukan hanya sebagai bentuk seremonial saja, namun Hari ini (1 May) adalah hari perjuangan Buruh menuntut kesejahteraan kepada pemerintah, para buruh bersatu untuk mengambil kembali hak-hak mereka yang dirampas oleh kaum pemodal (kapitalis) yang disokong oleh para manipulator ulung yang sedang ongkang-ongkang kaki digedung perwakilan rakyat.
Namun dimana para Mahasiswa? Dimana orang-orang yang digadang sebagai Agent Of Change? Sosial control? Iron stock? Moral Force? Apakah 4 peran dan fungsi mahasiswa tersebut hanyalah sebatas slogan meninabobokan para mahasiswa? Hanya sebatas kata-kata buaian agar mereka bisa membusungkan dada disetiap mengenakan Alamater saat turun kejalan?

Sahabat Kita



Foto perpisahan dengan sahabat yang luar biasa, Bung Fikri namanya

Engkau difitnah, Kemudian dibungkam Karena ambisi kekuasaan
telah kau beri apa yang mereka minta.
mimpi, martabat, tenaga, luka.
begitulah nasibmu Kawan, terimalah nasibmu itu dengan senyuman dan jiwa yang besar
jangan mengeluh, karena keluh adalah tanda kelemahan jiwa.

Ini bukan sebuah perpisahan, Kawan.
ini hanyalah sebuah awal,
yang dimana kita bertemu dengan persimpangan,
lalu, kita mengambil jalan kita masing-masing,
jalur yang berbeda.

Upgrade Your Self



Saya memulai tulisan ini dengan mengutip sebuah hadits, “Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin maka ia telah lalai(merugi), Barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin maka ia terlaknat(binasa).” Kurang lebih begitulah pesan Nabi dalam hadits beliau tentang pentingnya peningkatan perbuatan baik yang kita lakukan. Pesan tersebut secara tidak langsung menyeru kepada kita untuk berpikir futuristik serta konsisten dalam menjalankan kehidupan.
Kita sekarang masih berada dalam meriahnya suasana tahun baru. Masih terngiang sisa-sisa suara petasan dan kembang api yang begitu meriah tadi malam. Mungkin masih tersisa pula rasa kantuk begadang semalam suntuk. Namun, pertanyaannya adalah, apa setelah itu? Apakah semua kemeriahan itu hanya bersisa dan bermakna seremoni yang tak berisi? Tanpa ada resolusi dan bayangan mau apa setelah ini. Saya harap tidak demikian, dan saya rasa kawan-kawan pasti jauh memiliki bayangan ke depan.
Kita mulai ini semua dengan belajar, belajar, dan belajar! Dalam konteks ini belajar bukan hanya disandarkan pada kegiatan akademik di bangku-bangku kuliah maupun sekolah. Belajar di sini memiliki arti yang jauh lebih luas dari sekedar itu. Kita perlu belajar, memulai belajar itu dengan mengenal diri kita sendiri. Lalu kita merumuskan apa yang hendak menjadi tujuan dan apa yang mau kita lakukan. Meskipun terkadang dihantui rasa takut untuk bermimpi dan kegagalan menjalankannya, namun setidaknya kita pernah membayangkannya bukan? Setelah mencoba mengenal diri kita sendiri lalu kita mengenal lingkungan sekitar kita. Mendefiniskan siapa kita di mata mereka dan apa yang bisa kita lakukan bagi mereka. Kemudian, mulailah! Lakukan apa yang bisa kita lakukan sesuai dengan apa yang kita rumuskan. Jalankan sesuai tujuan, meskipun di tengah jalan terkadang kita membutuhkan perhentian atau justru berkelok mengikuti konstruksi jalan.
Hal-hal tertulis di atas memang masih terkesan sangat normatif. Namun, di sinilah titik awalnya. Membangun kesadaran akan perlunya perubahan. Dari diri sendiri, mengalahkan rasa takut yang terus bersemayam di dalam diri. Merobek jaring pembatas yang selalu menghalangi mimpi-mimpi kita beranjak pergi. Mari memulainya, sekecil apapun itu, seremeh apapun itu, yang jelas ada perpindahan yang kita lakukan dari satu titik ke titik yang lain.
Upgrade Yourself! Tingkatkan dirimu hingga batas tertinggi, melajulah hingga jarak terjauh. Walaupun nada-nada sarkas dan cibiran “normatif” bisa saja datang dari siapa saja, namun tetaplah melangkah. Jika memang perubahan yang kita lakukan itu diibaratkan sebuah perjalanan, anggap saja nada-nada sarkas dan cibiran tersebut sebagai klakson yang mengingatkan kita untuk tetap waspada di sepanjang perjalanan agar kita tetap awas dan terhindar dari kecelakaan supaya kita tetap selamat sampai tujuan.
Salam sukses,

Apatism




Entah beberapa waktu belakangan ini saya merasa muak dengan banyak hal. Dan inilah yang membuat saya kembali berceloteh. Rasanya muak melihat dunia sekitar yang seakan-akan penuh kepalsuan. Melihat tingkah polah manusia yang membuat saya lelah. Bahkan mungkin termasuk diri saya sendiri. Rasanya hari-hari menjadi begitu banal. Tak ada kemesraan dalam romantika.
Dimulai dari pergulatan pikiran saya tentang paham-paham, ideologi, atau yang kita biasa berakhir dengan imbuhan isme. Rasa-rasanya saya mulai lelah mendengar semua itu. Manusia satu sama lain bertengkar, merasa isme yang dipahaminya adalah yang paling benar. Mirisnya lagi ada orang yang menjadi pem-beo. Ia mem-beo perkataan tokoh-tokoh tertentu lalu seakan-akan menjadikannya postulat yang dianggap pasti benar. Padahal ia melakukannya tanpa dialektika. Sungguh saya bingung. Padahal, bukankah dialektika menjadi sebuah metode berpikir yang paling tepat untuk menghasilkan suatu keputusan terbaik?  Kalau mengkritik anti-taklid ya konsekuensinya juga harus tidak taklid.
Mirisnya, terkadang satu-dua di antara mereka berbicara seenaknya tentang semua itu. Merasa telah membaca berpuluh-puluh sampai ratusan judul buku berdiksi berat, merasa tinggi pula ilmunya melangit. Padahal bicara hakikat selalu ada langit di atas langit. Tak berbatas di luar alam nalari. Dengan mudah ia mengatakan segala hal yang ia pahami dalam teori di buku-buku beratnya itu sebagai sebuah postulat yang harus dijalani. Padahal sepatutnya terlebih dahulu kita berdialektika, mencari jawaban atas setiap pertanyaan, lalu merenung dan mengkontemplasikan. Bukan sekedar menjadi peniru barat, meskipun kita bukan pembenci barat. Boleh kita mengambil saripati budaya barat, asal pada takarannya. Tetapi yang lebih penting jangan sampai kita lupa kalau kita adalah orang timur yang dibesarkan dalam budaya timur yang rendah hati.
Saya hanya berceloteh. Bingung sebab rasanya sedang merasa miskin imajinasi. Rasanya saya bingung mau berkata-kata apa. Mau buat tulisan berkualitas pun rasanya tidak percaya diri. Mau bahas yang berat-berat takut saya lupa diri. Ah, beginilah yang namanya nasib lakon dalam hidup. Terkadang ada kalanya kita merasa jenuh melakoni peran yang harus kita jalani.