“…Kita akan mengerti seberapa berharga sesuatu, ketika kita kehilangan itu…”


“…Kita akan mengerti seberapa berharga sesuatu, ketika kita kehilangan itu…”
Kami telah lama menjalin pesahabatan, bahkan bisa dibilang kami lebih dekat dibanding saudara sekalipun, tetapi semua yang pernah kami lalui harus berakhir dengan sebuah pengkhianatan… sungguh aku masih bertanya apakah ini benar sebuah pengkhianatan?
Hmmm.. rasanya udah lama banget Ryan ga tegur-teguran sama Devani, padahal mereka itu dulu temen baik banget loh, tapi sekarang mah boro-boro, saling tatap aja ngak, bahkan jika ada orang yang membahas “mantan sahabat” mereka, mereka langsung ganti topik pembicaraan atau langsung menghilang dengan segera, risih banget emang liat sikap mereka sekarang, hmm kra-kira apa ya yang bisa gw lakuin? gw masih inget inget pohon di depan gang rumah gw, tempat dimana gw dan devai pernah ngerjain Ryan dengan cara ngegantung dia karena dia lagi ultah, rasanya kangen sama semua hal yang dulu lagi…
“Jef, kenapa lo kok bengong aja sih?” Devani membangunkanku dari lamunan sesaat.
“Oh, nggak apa-apa kok, eh lo tau kan seminggu lagi Ryan ultah, kira-kira kita kasih apa ya?”
“Oh, terserah lo aja deh, dia kan temen lo…”
Kata-katanya saat itu jelas menyadarkanku bahwa semuanya kini telah jauh berubah.
Sesampainya dirumah, aku bertemu dengan Ryan, dia datang menghampiriku dengan wajah pucat, tidak seperti biasanya, bukan Ryan yang aku kenal dulu.
“Hai Jeff, boleh gw ngomong sama lo…” Katanya sambil tersenyum, walau aku tahu senyumnya agak dipaksakan.
“Boleh banget yan, lama juga ngak apa-apa…” Aku menyambutnya dengan hati yang bahagia, dengan harapan yang lebih dari seorang sahabat.
“sebenernya Seminggu lagi, gw mau pindah rumah dan ikut nenek gw di surabaya dan gw mau pamitan sama lo…”
“loh kenapa pindah? ada masalah??”
“Ngak ada masalah apa-apa kok, sampein salam gw juga buat devani ya…”
“Kenapa lo ga kesana buat pamitan juga sama dia?”
“Ngak, gw masih takut kesana, takut dia masih marah sama gw…”
Ryan mengingatkanku akan kejadian kurang lebih 3 bulan yang lalu, dan itulah yang memulai sikap dingin dan angkuh diantara persahabatan kami. saat itu Devani sedang terbaring dirumah sakit karena deman berdarah, yang aku tahu golongan darah kami bertiga sama, tapi entah kenapa Ryan selalu menghindar ketika diminta mendonorkan darah, mungkin itu yang membuat Devani kesal, tapi yang jadi pertanyaanku sekarang mengapa ia tidak mau menyumbangkan darah? setauku Ryan orang yang pemberani, tidak mungkin takut pada jarum suntik.
Beberapa hari setelah Ryan kerumahku, aku akhirnya bertemu dengan Devani, ia makin sibuk dengan “urusannya sendiri”
“Van lo udah tau belum kalo Ryan pindah keluar kota?”
“Udah, terus mau diapain? biarin aja dia pergi jauh-jauh.”
Dan tiba-tiba saat kami berbicara muncul Ryan
“Van gw pengen ngomong sebentar boleh ngak?”
“Sorry gw ga ada waktu buat orang egois kayak lo…”
“Tapi van gw pengen jelasin semuanya, termasuk peristiwa waktu lo sakit…”
“Nggak ada yang perlu di jelasin…” Devani langsung pergi tanpa mempedulikan Ryan, aku hanya menonton kejadian itu, beberapa detik berselang Ryan terjatuh dari tempatnya berpijak…
“Bruk…” Aku dan Devani jelas kaget dan langsung membawanya ke rumah sakit.
Aku mengabari keluarga Ryan, dan saat aku tiba dirumah sakit, semuanya sudah terlambat… tapi apa yang terjadi? Secepat itukah? Aku melihat Devani yang penuh tangis dating menghampiriku…
‘Jeff, gw salah kira selama ini tentang Ryan…”
“Kenapa Van?”
“Sebenernya Ryan kena Leukimia dan itu udah bertahun-tahun yang lalu, dia nggak mau nyumbang darahnya waktu itu, karena takut kita akan tahu tantang penyakitnya…”
belakangan aku baru tahu, Ryan sama sekali tidak pergi kerumah neneknya di Surabaya, tapi ke Singapur untuk pengobatan, kini semua jelas saat kami kehilangan dia, kehilangan seorang sahabat…

yang mampumenggambarkan kehidupan gw cuma puisi nya chairil anwar Aku (Chairil Anwar) Kalau sampai waktuku ‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Dan aku akan lebih tidak perduli Aku mau hidup seribu tahun lagi

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »