Celana ‘bahan’


Percaya ga percaya ada begitu banyak efek, klo kamu pakai celana ‘bahan’ tiap hari, apalagi dengan panjang celana sedikit mengangkat diatas mata kaki (seperti anjuran agama)… mulai dari dianggap orang soleh, dianggap anggota ormas islam, dianggap kolot/katro, dan bahkan dianggap ada sangkut pautnya dengan teroris, apalagi di tambah pelihara jenggot  wuiihhh…  serem juga ya..! tapi ini  beneran sob dan gw dah mengalaminya, ntu gara-gara celana yang gw pakai sob… pikiran orang2 yang liat dah dihiasi dengan sangkaan-sangkaan sedikit aneh nan menggelitik… meski sebenarnya memang ada anjuran dari agama untuk memakai pakain (celana) bagi laki-laki panjangnya harus diatas mata kaki biar hati tidak riya.. tapi aneh juga orang2 berfikir sperti itu..
Padahal alasan gw pakai celana ‘bahan’ adalah lebih nyaman aja ketimbang pakai celana jeans, pertama nyucinya gampang, kedua tidak kaku, trus terakhir yang  paling  penting yaitu ademnya sob wuihh… hehe..:D  Ada sekitar lebih dari 2 sob gw yang nanya serius tentang kenapa gw keseringan pakai celana ‘bahan’? heuheu.. cm gw jawab santai aja krna bagi gw bukan suatu yang prinsip pakai celana ‘bahan’ atao nggak… cm ini membuktikan bahwa mungkin bagi sebagian orang pakaian merupakan identitas yang memakainya, dengan kata lain pakain yang kamu pakai menggambarkan siapa kamu yang sebenarnya, bagi gw agak aneh juga sebenarnya.. tapi itulah yang terjadi di masyarakat kita kebanyakan meski ada pepatah ‘don’t judge the book from the cover’ tapi kita ga bisa menuntut setiap orang yang melihat kita untuk berfikir seperti pepatah yang gw kutip tadi..
Ada saatnya kita berjalan sesusai dengan pandangan kebenaran umum dan ada saatnya berjalan mengikuti prinsip dan keyakinan kita sendiri. Bagi gw ini lebih bijak ketimbang berjalan melihat dari satu saja, karna kita hidup ditengah-tengah masyarakat dengan pemahaman yang mereka punya berbeda satu sama lain tentang suatu hal.

yang mampumenggambarkan kehidupan gw cuma puisi nya chairil anwar Aku (Chairil Anwar) Kalau sampai waktuku ‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Dan aku akan lebih tidak perduli Aku mau hidup seribu tahun lagi

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

1 komentar:

komentar
Anonim
31 Januari 2012 04.14 delete

mas kalo bisa cantumin source link-nya ya, kalo tulisannya bukan mas sendiri yang nulis.. :D

semngat ng-blog mas..!

Reply
avatar