Ketakutan ini lagi bunda


Saat senja telah menua
Suara jangkrik dan binatang meraung-raung dijalanan
Aku duduk diatas batu karam dipinggir kolam, telaga sunyi.
Diatas teras jaman, diantara suara tangis keluarga,
Aku melelehkan air mata.
Diantara distorsi-distorsi lagu, diantara kabut kabur,
aku mendengar.

Malam ini diluar dingin sekali bunda.
Burung camar terbang menyambar ulat.
Semuanya telah terlambat bunda.
Engkau berjalan melewati koridor-koridor kamar
Diatas kursi beroda.
Dipasung oleh luka.
Begitupun aku bunda.

Aku merasa tubuhku tak berdaya seakan dipundakku terbeban kenangan-kenangan labirin-labirin kenangan yang menyesatkan kita pada kesenangan dan lupa akan kesedihan.
Jaman macam apa ini bunda...?
Semua kebahagiaan dirampas oleh ketakutan dan siksaan.
Dibawah lampu taman diatas rumput hijau.
Aku bersandar pada tiang keparcayaan akan adanya tangan tuhan.
Aku mencoba mengaduh dan merampas darinya.
Mengambil hak kuatas semua.
Tapu aku tak bisa bunda.
Jamur-jamur tumbuh dibawah kakiku
Lumut tumbuh subur dipipiku
lembab dipinggiran sungai ujung mata
dibawah ranjangmu ditompangoleh empat rangka disitulah aku berada.

Ditaman bunga sudah bermekara, mari kesini melihatnya bersama ku lagi bunda. Melihat suara, mendengar sentuhan, memegang pandangan bersamaku lagi.
Sragen, 11 juni 2012





Ikusuma putra

yang mampumenggambarkan kehidupan gw cuma puisi nya chairil anwar Aku (Chairil Anwar) Kalau sampai waktuku ‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Dan aku akan lebih tidak perduli Aku mau hidup seribu tahun lagi

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »