Bahkan Dari Seorang Banci Pun Kita Mendapat Kan pelajaran Hidup


sore yang indah secara mata, tetapi nggak buat hati putra yang campur aduk galaunya, antara ngerjain tugas AlJabar Linier yang bikin otak kram, trus tadi karena terlambat masuk kuliah sampai diusir sama Manusia Rubah Dosen Kalkulus, dan focus dengan latihan kuat-kuat nyentil upil yang sebentar lagi turnamen terbesar di Indonesia itu dimulai, heheheh nggak penting banget. Heheheh habis pulang kuliah di griya manusianya pada nangkring kekampus semua, yah bercumbu dengan kesunyian lagi dah.
Didalam kamar yang sendirian dan tiba-tiba si manuasia anime(apip keluar dari Lubang saranga pintu) dan ngajakin jalan-jalan ngelepas penat, yups!, pilihan utama took buku Gramedia. Ditempat inilah biasanya putra ngabisin kepenatan, depresi, dan kegalauan putra karena tertekan mental kalah saingan ama Pemain bola Dapit beckham Yang mendera hati putra.* lebay*.

Sebenarnya ditoko buku itu nggak harus beli, justru putra lebih banyak cekikikannya ketimbang beli buku yang bejibun banyaknya, biasanya putra ke took buku hanya sekedar mencari info, tentang buku apa yang ngetren dibelantika perbukuen Indonesia saat ini.
Hmmm sebenernya sih putra nggak membahas masalah buku yang bejibun banyaknya bertumpuk rapi di dalam took buku ntu, tetapi ini masalah social *ciah sok peduli lingkuangan*, hmmm kira-kira kemaren waktu tepat nangkring di pukul 2 sore dengan kondisi cuaca yang cukup panas banget, kebetulan Putra berhenti di lampu merah deket dago.
putra bukannya mo cerita suasana sumpeknya jalanan, tapi Putra mau cerita tentang seorang pengamen banci yang putra liat di perempatan lampu merah itu. Dia pake sandal jepit, celana pendek mirip hotpans, baju kaos panjang warna merah, rambut panjang dengan cat warna orange, yang pasti mirip-mirip luna Maya dikit dah, mirip gini nih..

Gimana? Mirip kan..? awas jangan ampe horni kamu ngeliatnya.. :D , yang Putra liat di lampu merah sih, agak cantik dari yang ini *lho.. ternyata diam-diam gw.. tittt… tittt… [sensor] *.
Pas lampu merah nyala dia mulai keliling menjajakan suara dan gerakan tubuhnya yang feminim ke setiap mobil mewah yang bejajar nunggu lampu hijau nyala, sambil diiringi kecrekan dari kumpulan tutup botol dia nyanyi dengan lepasnya, tersenyum manis, dan bergoyang dengan anggunnya. Cuma melihatnya, waktu itu putra liat nggak ada satu mobil mewah pun yang membuka kaca mobilnya buat ngasih receh ke itu banci, yaa.. mungkin belum ada rizki kali buat dia.
Tapi yang putra salut dari dia, meski udah berusaha nyanyi dengan manisnya, harus jalan dari satu mobil ke mobil lain dengan kondisi cuaca panas banget, dan tidak mendapatkan hasil berupa uang recehan yang tidak seberapa, seratus, dua ratus perak, tetep kondisi tersebut nggak bikin emosinya ikut panas.. malah ketika lampu hijau nyala dia dengan tetap nyanyi-nyanyi sendiri dan tersenyum, dia minggir ke trotoar buat berteduh dan nunggu lampu merah nyala kembali.
Terlepas dari kondisi dia menjadi seorang banci, menjadi kaum marginal yang amat sangat terpinggirkan di kehidupan masyarakat, tapi hari itu dia telah ngasih putra pelajaran hidup, bagaimana menerima kenyataan hidup dengan bijak. Hadapi semua kenyataan pahit karena dibalik itu semua, ada kenyataan yang teramat manis yang menunggu kita.
putra cuma bisa berdo’a, semoga seluruh banci di Indonesia bahkan di dunia, mudah-mudahan kalian kembali ke kehidupan normal, karena dengan kembali ke kodrat yang semestinya, itu akan mendatangkan kehidupan yang lebih baik. Semangat untuk berubah sob-sob…!!!

Make better with a cup of coffee

yang mampumenggambarkan kehidupan gw cuma puisi nya chairil anwar Aku (Chairil Anwar) Kalau sampai waktuku ‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Dan aku akan lebih tidak perduli Aku mau hidup seribu tahun lagi

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »