Sahabatku Dan Post 13



Pagi hari dengan embun tebal menyelimuti kawasan sragen dan sekitarnya. “adit...adit...bangun, sarapan dulu cepetan ntar kamu terlambat masuk kuliahnya lho...!!” teriak ibu dari dapur dilantai bawah. “sebentar bu.. ini baru ganti baju..bentar lagi...!!”. sedangkan ibu mengambil koran dikotak surat didepan rumah.
            “dit...adit...nie ada surat untuk kamu..!!” kata ibu sambil memulai menyiapkan sarapan. “dari siapa bu..?” tanya adit sambil menuruni tangga. “dari candra...ow iya dit candra kok dah lama nggak maen kerumah, dia kuliah dimana..?” tanya ibu. “taru situ adja bu, candra..? tumben dia ngirim surat..!!! biasanya adja dia sms..” sindir adit yang sedang duduk dimeja makan bersama keluarga yang lain.

            “iya nie sudah lama candra nggak maen kerumah..!!! emang dia sekolah dimana dit..?” tanya ayah sambil membaca koran harian.”nggak tahu nie yah.. kabarnya sih dia sekolah dijepang...!!” jawab adit. “kamu apa nggak maen-maen kerumahnya gitu silaturahmi ama ibuknya..?” tanya ayah. “keluarganya pindah rumah ke bandung yah.. 3 tahun yang lalu sampai sekarang nggak tahu tuh kabarnya..”
            “laha kamu apa nggak sering sms-an ama dia ngabar’i gitu..?” tanya ayah. “nggak pernah yah, terakhir adja waktu pas mau berangkat perpisahan sma dulu, itupun dia nggak masuk katanya dia sakit” tambah adit. Tak lama kemudian sambil minum kopi kesukaannya, adit membaca surat yang dikirimkan sahabat kecilnya itu. Maklum adit dengan candra berteman sudah lama dari dia keccil, mungkin karena mereka satu sekolahan mulai dari tk sampai lulus sma.
Isi surat tersebut
Buat adit sahabatku.
           
            Salam hangat dari sahabat kecilmu, adit sudah lama banget kita nggak ketemu, nggak terasa sudah 3 tahun kita nggak jumpa. Mungkin kamu sudah banyak berubah, ow iya maafin aku nggak ada kabar, setelah penumuman keluargaku pindah kebandung dan aku ngambil beasiswaku kuliah kejepang. Kamu masih inget nggak janji ku dulu saat kita SMA waktu sebelum ujian nasional. Setelah lulus nanti aku mau ajak kamu mendaki naik kepuncak gunung merapi. Sebelum aku benar-benar ninggalin kamu. Kebetulan aku punya waktu 2minggu sebelum kembali kejepang, ow iya 7 hari lagi kita kepuncak ya, aku tunggu dipos pemberangkatan jam 11 siang. Sampai ketemu sobat. Ow iya salam buat tante ratna sama om wijaya, jadi kangen ama masakan ibu kamu dit. :D
Salam dari sahabatmu
Candra ardiawan

            “isinya apa dit..?” tanya ibu.
            “ini bu candra mau ngajak adit kepuncak gunung merapi, katanya dia mau nebus janjinya dia ama aku katanya..” jawab adit sambil tersenyum.
            “ow... sekolah dimana sekarang dia..?” sela ayah bertanya.
            “dia sekolah beasiswa dijepang yah. Ow iya dapet salam ama candra..!” jawab adit.
            “wah hebat dong dia, nggak kaya kamu dit dirumah bisanya Cuma moto-moto doang.” Sela ibu yang dri tadi sibuk dengan roti bakarnya.
“biarin aku ini…” sambil senyum-senyum.
“kamu itu nggak normal ya dit,..? senyum-senyum adja dari tadi, bahagia banget dapet surat dari candra adja, malah lebih seneng dari ketemu cewek mu”. Ejek ayahnya.
Adit langsung mandi dan langsung pergi kesekolah dengan sepeda kesayangannya, setelah pulang sekolah adit mampir kesanggar pecinta alamnya yang dulu sering iya kunjungi dengan sahabatnya itu. Dan mempersiapkan semua peralatan mendaki gunung.
.0.oo
Setelah menyiapkan fisik, mental dan peralatan untuk mendaki, akhirnya sampai lah waktu untuk mendaki gunung bersama sahabatnya itu.
Dipos 11 tempat pendaftaran mendata para pendaki yang mau mendaki gunung merapi, “mas-mas…!!! Mau mendaftar untuk melakukan pendakian, ..!!”
“sini dek tuliskan nama, tanggal, alamat, waktu pemberangkatan, setelah itu masuk kebagian tes kesehatan dan pemeriksaan peralatan ya. Kalo sodah diijinkan mendaki kesini lagi untuk melakukan registrasi selanjutnya.,”tutur penjaga pos.
Setelah beberapa saat melalui tes dan memeriksaan persiapan mendaki, adit menuju tempat petugas registrasi tadi, dan dia melakukan registrasi perijinan melakukan pendakian.
“dek ini beneran untuk berdua…?,” Tanya petugas post.
“iya mas, kami mau melakukan pendakian berdua..?” jawab adit dengan tergesa-gesa karena sudah tidak sabarsampai kepuncak gunung.
“tapi dek,, ini Cuma..!!!”  belum sempat petugas post berbicara adit sudah berangkat tanpa menggubris apa yang dikatakan petugas kaga tadi, pikirnya dia tidak memerlukan penjelasan apa-apa dari petugas penjaga karena dia merasa aman mendaki bersama sahabatnya yang telah biasa melakukan pendakian.
Diperjalanan pendakian radit dan candra tak henti-hentinya berbincang dan bercerita  tentang masa lalu yang mereka lalui bersama, cerita tentang masa kecil meraka sampai mereka terpisahkan oleh lautan yang jauh, dan apapun mereka bicarakan saat dijalan. Tak terasa hari semakin petang, dan mereka telah sampai pada post peristirahatan yang dimana tempat itu telah biasa untuk mendirikan tenda.
Sembari menunggu petang mereka membuat perapian untuk menghangatkan tubuh dan membuat perlindungan dari binatang buas. Setelah hari gelap sunyi dan dinginnya malam hari di gunung merapi ini sangat terasa, dinginnya sampai menembus jaket yang radit kenakan,.
Dan tiba-tiba dari kejahuan  terdengar suara seperti orang ramai berjalan dan suara yang menyeramkan dating, karena kegelapan malam ini memburamkan penglihatan mereka. Dan tidak beberapa lama mereka telah biasa mendengar suara-suara aneh tersebut dan merka ridak menggubrisnya lagi. Sambil memasak makanan meraka berbincang-bincang untuk melepas kangen yang lama mereka tak jumpa berfoto bersama untuk kenang-kenangan.
“dit, kamu masih inget nggak bolpain ini…?”. Tanya candra dengan senyum yang tulus terpampang diwajahnya.
“ya inget lah, seharusnya itukan jadi bolpain ku, kan yang mendapat nilai 100 kan aku, emang pak budi itu pilih kasih.” Jawab adit.
“ow iya-ya dulu gara-gara bolpain ini kita sempet musuhan diam-diaman selama 1 bulan, dan diakhiri dengan adu jotos yang membuat seisi kelas saat itu mencekam. Dan nggak ada yang berani melerai kita berantem ya…!”. Jelas candra.
“masih inget adja kamu can, sampai-sampai meja satu kelas berantakan semua ya.hehehhe”. Imbuh adit dengan tertawa.
“ nih jaga baik-baik ya bolpain ini, ini hadiah terakhir dariku.” Kata candra sambil memberikan bolpain itu kepada adit.
“lho, kok kamu kasihkan ke aku, bukannya itu bolpoin keberuntunganmu,..?” jawab adit.
“heheh g apa-apa sakarang yang lebih membutuhkan ini itu kamu dit, ow iya kamu apa masih suka membantah ibu kamu kaya dulu dik…?” Tanya candra.
“masih sih, lha abis ibuku tu dari dulu masih nyebelin”. Jawab adit.
“jangan gitu dik, kamu kan masih punya kesempatan karena masih diberi waktu untuk bersama keluargamu, jadi ya gunakan waktu mu untuk menyayangi kedua orang tuamu. Jangan sampai nyesel seperti aku, yang udah nggak diberi kesempatan untuk bersama keluargaku lagi…!!!”. Nasehat candra untuk sahabatnya.
“ya, kamu sih pake acara sok-sokan ekolah jauh-jauh sampai kenegeri matahari terbit” jawab adit dengan gaya sok tahunya.
“aku boleh minta tolong nggak dit..?” pinta candra.
“minta tolong apa can…? Kalo aku mampu aku akan membantumu, apasih yang nggak buat sahabat ku, masak halsepele ini sampai membuat persahabatan kita pecahsih. Hehehhehe” jawab adit dengan guyonannya.
“hehehhe, tolong ya dit jaga ibu dan adek ku, anggap mereka seperti ibu dan adek mu sendiri. Karena aku nggak bisa menjaganya. Dan jangan lupa bayar utang mu yang 25rb yang kamu pinjem untuk membeli coklat cwek mu.” Pinta candra sampil tertawa dan memberikan harapan penuh kepada sahabatnya tersebut.
“oke… ciah kamu kalo soal hutang nggak pernah lupa, iye-iye” jawab adit.
Takterasa sudah larut malam dan mereka tak sadar bahwa sudah lama sekali mereka ngobrol, tetapi adit ngerasa ada sesuatu yang berbeda dari sahabatnya itu, yang dulunya candra anaknya yang periang dan dan nggak pernah diem, tapi dia berbeda dari biasanya dia lebih pendiem dan lebih banyak membicarakan hal-hal yang aneh. Mungkin sikapnya itu karena pengaruh pergaulannya dijepang. Dan karena mereka kelelahan mereka memutuskan untuk istirahat.
.0.oo
Adit tidur dengan pulasnya, embun pagi dan kicauan burung-burung hutan yang keluar dari sarangnya untuk mencari mangsa, membangunkan tidur adit. “can…can…candra kamu dimana…???, nggak lucu deh kamu sembunyi”. Dika kebingungan kesana-kemari dia mencari sahabatnya yang tiba-tiba menghilang tampa pamit. Dan sudah bebrapa lama dia menunggu sampai setengah hari dan mencari sahabatnya disekitar tenda yang mereka dirikan itu, dan hasilnya radit tidak menemukan sahabatnya dimanapun.
Lalu dia memutuskan untuk turun dan melaporkan kepada petugas post dan tim sar yang ada khusus untuk membantu para pendaki gunung merapi. Sesampainya dibawah dia juga tampak kebingungangan entah apa yang akan dia katakana kepada petugas post tersebut.
“mas…mas… tolong saya mas, teman saya menghilang, saya takut kalo dia kenapa-kenapa…!!!”. Radit khawatir kepada temannya yang menghilang.
“tenang dulu dik, adek harus tenang dan ceritakan semua kepada kami. Nie minum dulu dik”. Sambil menyodorkan segelas air putih.
“begini pak kemarin kan saya dan teman saya meminta izin kepada masnya untuk mendaki gunung, yang kemarin lho pak yang bersama saya kesini., setalah sampai post 13 dan berhubung waktu sudah petang kami mendirikan tenda dan bermalam di tempat pos tersebut. Lalu paginya teman saya menghilang dengan barang-barang nya pun menghilang, saya juga mau Tanya apakah teman saya sudah kembali…?” cerita adit bicara dengan cepat.
“tunggu sebentar dik, tenang bicaranya pelan-pelan…!!! Tadi adek bicara adek mendaki bersama teman adek, maaf dik kemaren adek itu mendaftar kesini sendirian, dan saya juga bingung kenapa adek kemaren mendaftarkan 2 orang, kemarin saya mau Tanya adek sudah berlari dahulu. Dan tadi adek bilang bermalam di post 13, apakah benar adek bermalam di post 13…?” Tanya petugas post dengan keheranan.
“benar pas disana ada gapura bertuliskan post 13, dan disana ada tugu bertuliskan huruf jawa, dan disana ada tempat menaruh sesajen, yang tepat berada di belakang post 13 tersebut, saya bermalam di tempat yang telah disediakan untuk mendirikan tenda…!!!” jelas si adit kepada petugas penjaga post.
“maaf ya dik saya tidak bermaksud untuk tidak percaya kepada adek, karena post 13 itu sudah tidak ada lagi, karena telah rusak tertimbun longsor dan menewaskan 30 orang pendaki 3 minggu yang lalu. Dan jalan di post 13 sudah tidak bisa lagi untuk dilalui dan sangat berbahaya untuk dilintasi, oleh karena itu kepala polisi kehutanan setempat  menutup post tersebut” jelas petugas.
“tidak mungkin mas, saya jelas-jelas kemarin melihat dan bermalam ditempat tersebut, dan ini lihat mas foto-foto yang sempat saya potret bersama temen saya kemaren dipost 13.” Sambil menyodorkan camera dan memperlihatkan foto bersama sahabatnya.
Si penjaga post pun terkejut karena melihat foto yang radit potret karena itu benar-benar lokasi dan tempat dimana post 13 itu berada. Dan sama persis dengan post 13 yang ada di gunung merapi itu. “ ini benar kamu poto kemaren, karena poto ini post 13 sebelum tertimbun longsor 3 minggu yang lalu.” Kata penjaga post.
“saya tidak percaya mas, kamu pasti bohong” lalu radit mangambil kameranya dan dia langsung pergi meninggalkan post tersebut. Sambil berjalan dia melihat poto-poto tadi malam bersama sahabatnya tersebut, tetapi yang dia temukan hanya poto dirinya sendiri yang sedang berkemah dipost 13. Dan dia bertanya kepada warga setempat dan jawabannya pun sama seperti sipetugas penjaga post tadi.
Karena dika tidak percaya kepada semua orang di gunung merapi tersebut, diapun mendatangi rumah sahabatnya yang telah pindah kekota solo itu.
*Tok..tok..tokk…tok*  “selamat siang…!!!”
“selamat siang, eh adit sudah lama nggak ketemu gimana kabarmu..? ayo silahkan masuk..!!!” suruh ibunya candra.
“tante candranya ada..? kemarin dia mengilang tiba-tiba saya mau enanyakan keadaan dia, apakah sudah pulang…?!” Tanya Dika penuh semangat.
“candra,,,kamu belum tahunya dik, candra sudah nggak ada, karena kejadian itu…” jawab ibunya candra sambil menitihkan air mata.
“candra kenapa tante..?” Tanya dika khawatir.
“candra,,, dik dia meninggal akibat tertimbun longsor saat mendaki gunung merapi 3 minggu yang lalu..”
“yang bener tante, kemaren dia sama dika mendaki gunung bareng.” Jawab dika.
Dika dan ibunya candra bercerita panjang leber tentang candra dan membicarakan Candra selama ini. “oh iya dik ini tas ransel punya nya candra saat mendaki kemarin, ditemukan bersama jasad candra, dan tante mendapatkan hal yang ganjil, ini surat untuk kamu tetapi isinya..ber tanggalkan 3 minggu setelah dia meninggal” ibunya candra memberikan surat tersebut kepada dika.
Untuk sahabatku dika
            Dik… makasih telah menemaniku mendaki untuk yang terakhirkalinya, ini adalah pendakian yang sangat indah untuk ku. Aku sudah menepati janju ku menemani kamu mendaki gunung merapi untuk pertama kalinya kan. Sekarang aku sudah tidak punya hutang janji lagi ya…!!! Ow iya, maafin segala kesalahan aku ya. Sekarang kita benar-benar nggak akan ketemu lagi, dan tolong kamu tepatin janjimu pula. Untuk menjaga adik permpuanku dan ibuku tercinta anggap dia seperti ibumu sendiri. Terima kasih karena kamu sudah mau menjadi sahabat terbaik ku.
Selamat tinggal dik,
Salam dari sahabatmu
Candra ardiawan

Semenjak kejadian itu, dika merubah semua hidupnya menjadi lebih baik dan berguna bagi dirinya dan orang lain. Dan dia juga sadar bahwa persahabatan mereka benar-benar kuat sampai setelah kepergian candra kepada sang pencipta pun mereka masih tetap bisa berbagi cerita.
.0.oo
2 tahun kemudian.
*kring…ring..ring…kring…kring* suara telepon bordering.
“hallo, ini siapa…?”jawab dika.
“bisa bicara dengan dika…?” suara dari seberang sana.
“ya dengan saya sendiri..!!” jawab dika.
“selamat pagi dika, kita mendaki kepuncak gunung merapi lagi yuk mumpung cuacanya cerah” ajak suara dari seberang sana.
“oh maaf sebentar, ini dengan siapa ya…?” Tanya dika.
“dik, ini aku sahabatmu, Candra Ardiawan yang dulu sempet satu meja dengan mu di SMA”jawab suara diseberang sana.
“APA…???” dika kaget.

*---TAMAT---*

yang mampumenggambarkan kehidupan gw cuma puisi nya chairil anwar Aku (Chairil Anwar) Kalau sampai waktuku ‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Dan aku akan lebih tidak perduli Aku mau hidup seribu tahun lagi

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »