Apa salah Aku cemburu ?

Aku tak mengerti kenapa kemalasan ku selama dirumah ini tidak bisa aku reda, tidak bisa aku kalahkan seperti saat aku dibandung. Entah kenapa rasanya semua kepatuhan tubuhku hangus dibakar oleh rasa cemburu yang sangat besar. Cemburu saat aku melihat ibunda berjuang menghadapi umurnya, berjuang menggilas waktu, tak perduli akan sakitnya kaki yang belum terlalu sembuh dari luka yang ia terima setahun silam, yaitu luka saat kecelakaan sepeda motor saat aku menolak mengantarkannya kerja kekios.

Aku cemburu saat ibunda berjuang melawan rasa sakitnya, melawan kelelahannya, merelakan semua waktu bersenang-senangnya untuk sekedar ngerumpi bersama temen-teman sekitar rumah seperti yang dilakukan wanita-wanita kebanyakan didesaku. Aku cemburu karena ibunda selalu bisa mengendalikan tubuhnya untuk berjuang membantu bapak yang kerja jauh dikalimantan. Aku cemburu dengan seorang wanita paruh baya ini, karena mampu mendidik anak-anaknya dengan baik dan bijak.
Dia bangun setiap harinya pada pukul 3 malam, setelah membuka matanya hal yang ija lakukan adalah menuju tempat wudhu, dia mengerjakan sholat malam dan berdoa. Mendoakan suami yang jauh meninggalkan rumah untuk menghidupi ank-anak dan keluarganya, membiayai pendidikan anaknya, dan memberi nafkah pada keluarga sederhana kami.
Setelah berdoa memohon kepada yang maha kuasa, ibunda langsung membuka kantok plastic besar yang ada diruang keluarga, kantong plastic yang selalu pulang dari kios kecil tempat kerjanya. Gunting, kain bahan pakaian, dan beberapa alat lain yang sealalu ibunda gunakan untuk bekerja sebagai penjahit. Ibundaku hanyalah seorang penjahit biasa, dengan semangat hidup, daya juang yang luar biasa, aku selalu bangga dengan apa yang ibunda lakukan untuk anak-anaknya selama ini.
Prinsip kerja ibunda adalah bekerja secara disiplin, tepat waktu, dan tidak mengecewakan pelanggan. Ibunda selalu membuat baju dengan baik, karena itulah ibu banyak memiliki pesanan. Kerjaan ibu sangat banyak, dia mengerjakannya disaat orang-orang sedang tidur, dia bangun lebih awal dari orang lain, dan tidur paling akhir dari orang lain.
Ibunda berangkat ketempat kerja disaat orang-orang baru bangun dari tidurnya, ibu selalu berangakat bekerja pada pukul 05.30 pagi, dia selalu berangkat lebih awal dari pada karyawan terajinnya. Dari kecil ibunda dikenal bekerja keras oleh orang-oreng didesa kami, dibesarkan dari keluarga yang tidak mampu dia berjuang untuk bertahan hidup, hingga sekarang ibunda banya dihormati oleh orang-orang didesaku.
Ibunda bekerja sepanjang hari, pukul 16.00 dimana waktu orang-orag didesaku pulang kerumah, termasuk karyawan yang bekerja membantu ibundaku bekerja dikios kecilnya. Tapi, jam segitu belum jam pulang kerja bagi ibunda, ibunda pulang menjelang magrib. Ibunda tidak pernah mengeluh sedikitpun tentang pekerjaannya, ibunda pulang selalu dengan wajah senyumnya. Ibunda terlihat sangat cantik ketika sedang tersenyum.
Walaupun ibunda menyembunyikan kelelahannya bekerja seharian, aku tetap mengetahuinya, walau bagai manapun ibunda menyembunyikan kelelahannya aku tetap bisa merasakannya. Setelah selepas isak ibunda tetap menyempatkan waktunya untuk mengaji, memenuhi kebutuhan rohaninya. Setelah itu ibunda bekerja menyiapkan apa saja yang dia butuhkan untuk bekerja ke’esokan harinya.
Perjuangan ibulah yang membuat ku cemburu kepadanya, cemburu karena aku belum berjuang sepertinya. Selalu ada rasa didalam hati ku, untuk berjuang sepertinya. Tapi selama ini aku belum bisa menandingi perjuangannya…. kepada apa yang telah ibunda kerjakan . . . ?


yang mampumenggambarkan kehidupan gw cuma puisi nya chairil anwar Aku (Chairil Anwar) Kalau sampai waktuku ‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Dan aku akan lebih tidak perduli Aku mau hidup seribu tahun lagi

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »