Masyarakat Cerdas Adalah yang nggak Golput

Tahun 2014 merupakan tahun politik yang kini sangat hangat untuk dibicarakan oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Tepat tanggal 9 April 2014 warga negara Indonesia akan menggelar pesta rakyat yang dilaksanakan setiap 5 tahun sekali. Ada hal yang menarik sebelum pemilu dilaksanakan, yaitu kampanye. Tanggal 16 Maret sampai dengan 5 april 2014 merupakan proses pelaksanaan kampanye.
foto dari KDRI
Kebetulan kemarin aku melihat poster buatan temanku tentang slogan agar kampanye tidak menggunakan pohon. Ada tulisan menarik di poster tersebut “nyaleg sih nyaleg, kampanye sih kampanye, tapi nggak pasang poster dipohon juga kali” setelah baca tulisan itu saya langsung berpikir ‘iya juga nii tulisan cocok untuk di bagi. Hehhehe
Mungkin kalian melihat di daerah kalian dimana saja, saat ini memang panas-panasnya pemilu, poster-poster ditempel disembarang tempat dimana saja tak kenal pantas tidak ditempat disitu, masa bodo dengan keindahan tempat umum.baliho-baliho besar dipasang disetiap jalan-jalan bertumpuk-tumpuk dipojok perempatan, menambah riuh suasana macet kota.

Setiap peserta pemilu berlomba-lomba memasang poto terbaiknya didalam poster, beserta janji-janji kesejahteraan rakyat, track record yang banyak dan apalah yang membuat bulu kudukku berdiri ’saking hebatnya’.
Bendera-bendera dari parpol-parpol peserta pemilu dikibarkan, bahkan tak segan-segan bendera sebesar lapangan bulutangkispun dikibarkan, semangat sekali mereka untuk mengibarkan bendera yang mungkin dari sebagian mereka dengan senang hati mengibarkannya karena mendapat sesajen dari pemilik bendera tersebut.
Dijalan-jalan diseluruh pelosok negeriku dipenuhi dengan warna-warna bendera yang berbeda, seingatku saat 17 agustusan nggak seramai ini bendera-bendera dikibarkan, tak ada samapai bendera merah putih besar dikibar kan dimenara-menara tertinggi dikota-kota. Yaaa, mungkin lebih karena mendapat sesajen saja mereka berlomba-lomba mengibarkan bendera yang entah mereka mengetahui atau tidak sejarah dan arti bendera yang meraka kibarkan itu.
Tapi, ada suatu hal yang sangat menarik ketika aku membaca di kompasiana.com bahwa ada perkampungan yang padat penduduk, yaitu wilayah RW 12 Muja-Muju Yogyakarta. Diwilayah tersebut kita disambut dengan spanduk yang bukan atribut partai politik, namun spanduk itu bertuliskan “WILAYAH RW 12 MUJA-MUJU YOGYAKARTA BERSIH DARI ATRIBUT PARTAI POLITIK”. Bayangkan saja disaat seluruh lapisan masyarakat Indonesia berlomba-lomba untuk memasang atribut partai politiknya, namun di wilayah ini bebas dari atribut partai politik. Sepertinya ini bukanlah wilayah anti politik dan bukan golongan masyarakat yang bisa dikatakan “golput”.
foto dari Ibnu
Ternyata benar saja, “Masyarakat kini sudah pintar, kita sudah bisa menilai siapakah calon pemimpin yang akan kita pilih, bukan hanya melihat dalam waktu singkat foto seorang calon pemimpin kemudian langsung tertarik, bukan seperti itu. Saat ini kita bisa melihat seorang pemimpin dari sikap dan perilakunya yang kita bisa lihat dari berbagai sumber media, bukan dari janji-janji manisnya di saat politik saja, kenapa kita harus risau dengan para koruptor di Negeri ini, toh kita juga mudah tergiur hanya dengan iming-iming kaos parpol atau uang recehan”. Hal ini merupakan sebuah potret kecil bentuk kepedulian politik warga kampung yang patut dicontoh oleh sebagaian besar warga Indonesia lainnya. 
Kita memang mengharapkan sosok pemimpin yang bisa dijadikan sebagai panutan yang akan menuntun bangsanya mencapai kehidupan yang lebih baik. Membuka lapangan pekerjaan dan mengentaskan pengangguran. Semua itu perlu dukungan dari seluruh lapisan masyarakat untuk dapat bersikap bijaksana dalam menilai dan menentukan siapakah sosok pemimpin masa depannya itu.
“Masyarakat cerdas tidak akan goyah pendiriannya hanya karena bujuk rayu sang dermawan yang mengatas namakan calon pemimpin masa depan.“

Dan satu lagi pesan dariku kepada seluruh penduduk negeri Indah ini. Datanglah ke TPS masing-masing, coblos partai atau calon legislatif yang anda anggap dapat menyalurkan pikiran rakyat, yang dapat menuntun bangsa ini mencapai cita-cita bangsa yang ada di sila kelima dasar negara kita (pancasila) kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, jangan sampai golput ya. Masyarakat cerdas adalah yang memilih pemimpinya.


Sumber : http://politik.kompasiana.com/2014/03/20/kampung-percontohan-politik-642883.html

I am a person who has an inters in art, writing, technology and social activities. I concern to make some artwork, design an ads and illustration, take a photos, and etc. In writing, i like to write event reports, blog feeds, articles, reviews, content writing and some news features. In technology, i like to combine art and technology like making program, website, animation and other projects. In social activities, i like to analyze the social issue by looking at the phenomenon around, and contribute something useful to society. I can learn fast and I have good communication skills for promotional needs or presentations and can work individually or teamwork. During college, I joined several organizations, committees and communities in the social, environmental and art fields. I always wanted to keep challenging myself and looking for something new so I could develop my passion and my skills to become a more creative and productive person.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

1 komentar:

komentar
Anonim
8 April 2014 11.15 delete Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
avatar

Masyarakat Cerdas Adalah yang nggak Golput

Tahun 2014 merupakan tahun politik yang kini sangat hangat untuk dibicarakan oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Tepat tanggal 9 April 2014 warga negara Indonesia akan menggelar pesta rakyat yang dilaksanakan setiap 5 tahun sekali. Ada hal yang menarik sebelum pemilu dilaksanakan, yaitu kampanye. Tanggal 16 Maret sampai dengan 5 april 2014 merupakan proses pelaksanaan kampanye.
foto dari KDRI
Kebetulan kemarin aku melihat poster buatan temanku tentang slogan agar kampanye tidak menggunakan pohon. Ada tulisan menarik di poster tersebut “nyaleg sih nyaleg, kampanye sih kampanye, tapi nggak pasang poster dipohon juga kali” setelah baca tulisan itu saya langsung berpikir ‘iya juga nii tulisan cocok untuk di bagi. Hehhehe
Mungkin kalian melihat di daerah kalian dimana saja, saat ini memang panas-panasnya pemilu, poster-poster ditempel disembarang tempat dimana saja tak kenal pantas tidak ditempat disitu, masa bodo dengan keindahan tempat umum.baliho-baliho besar dipasang disetiap jalan-jalan bertumpuk-tumpuk dipojok perempatan, menambah riuh suasana macet kota.

Setiap peserta pemilu berlomba-lomba memasang poto terbaiknya didalam poster, beserta janji-janji kesejahteraan rakyat, track record yang banyak dan apalah yang membuat bulu kudukku berdiri ’saking hebatnya’.
Bendera-bendera dari parpol-parpol peserta pemilu dikibarkan, bahkan tak segan-segan bendera sebesar lapangan bulutangkispun dikibarkan, semangat sekali mereka untuk mengibarkan bendera yang mungkin dari sebagian mereka dengan senang hati mengibarkannya karena mendapat sesajen dari pemilik bendera tersebut.
Dijalan-jalan diseluruh pelosok negeriku dipenuhi dengan warna-warna bendera yang berbeda, seingatku saat 17 agustusan nggak seramai ini bendera-bendera dikibarkan, tak ada samapai bendera merah putih besar dikibar kan dimenara-menara tertinggi dikota-kota. Yaaa, mungkin lebih karena mendapat sesajen saja mereka berlomba-lomba mengibarkan bendera yang entah mereka mengetahui atau tidak sejarah dan arti bendera yang meraka kibarkan itu.
Tapi, ada suatu hal yang sangat menarik ketika aku membaca di kompasiana.com bahwa ada perkampungan yang padat penduduk, yaitu wilayah RW 12 Muja-Muju Yogyakarta. Diwilayah tersebut kita disambut dengan spanduk yang bukan atribut partai politik, namun spanduk itu bertuliskan “WILAYAH RW 12 MUJA-MUJU YOGYAKARTA BERSIH DARI ATRIBUT PARTAI POLITIK”. Bayangkan saja disaat seluruh lapisan masyarakat Indonesia berlomba-lomba untuk memasang atribut partai politiknya, namun di wilayah ini bebas dari atribut partai politik. Sepertinya ini bukanlah wilayah anti politik dan bukan golongan masyarakat yang bisa dikatakan “golput”.
foto dari Ibnu
Ternyata benar saja, “Masyarakat kini sudah pintar, kita sudah bisa menilai siapakah calon pemimpin yang akan kita pilih, bukan hanya melihat dalam waktu singkat foto seorang calon pemimpin kemudian langsung tertarik, bukan seperti itu. Saat ini kita bisa melihat seorang pemimpin dari sikap dan perilakunya yang kita bisa lihat dari berbagai sumber media, bukan dari janji-janji manisnya di saat politik saja, kenapa kita harus risau dengan para koruptor di Negeri ini, toh kita juga mudah tergiur hanya dengan iming-iming kaos parpol atau uang recehan”. Hal ini merupakan sebuah potret kecil bentuk kepedulian politik warga kampung yang patut dicontoh oleh sebagaian besar warga Indonesia lainnya. 
Kita memang mengharapkan sosok pemimpin yang bisa dijadikan sebagai panutan yang akan menuntun bangsanya mencapai kehidupan yang lebih baik. Membuka lapangan pekerjaan dan mengentaskan pengangguran. Semua itu perlu dukungan dari seluruh lapisan masyarakat untuk dapat bersikap bijaksana dalam menilai dan menentukan siapakah sosok pemimpin masa depannya itu.
“Masyarakat cerdas tidak akan goyah pendiriannya hanya karena bujuk rayu sang dermawan yang mengatas namakan calon pemimpin masa depan.“

Dan satu lagi pesan dariku kepada seluruh penduduk negeri Indah ini. Datanglah ke TPS masing-masing, coblos partai atau calon legislatif yang anda anggap dapat menyalurkan pikiran rakyat, yang dapat menuntun bangsa ini mencapai cita-cita bangsa yang ada di sila kelima dasar negara kita (pancasila) kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, jangan sampai golput ya. Masyarakat cerdas adalah yang memilih pemimpinya.


Sumber : http://politik.kompasiana.com/2014/03/20/kampung-percontohan-politik-642883.html