Bukan Maksudku [Chapter 1 : Ku Gores Tinta Di Atas Kertas Putihmu]


Malam semakin lama semakin gelap, aku ditemani segelas kopi cappuccino dan aku duduk didekat jendela kamarku. Aku melihat keluar jendela kamarku Seperti biasa malam ini hujan turun lagi, sambil mendengarkan lagu lembut dari Kenny G, dan sesekali playlist di pemutar musik berganti dengan petikan gitar Depapepe yang santai. Membuat suasana diluar damai menentramkan.
Hujannya Tidak deras, hanya gerimis. Itupun jarang-jarang, tetapi sudah cukup untuk membuat indah kerlip lampu. Aku menghela napas panjang. Tanganku perlahan menyentuh kaca jendela yang berembun. Dingin seketika menyergap ujung jariku, mengalir melewati telapak tanganku, menuju siku, pundakku, dan berakhir dihatiku.
Membekukan semua perasaan ini.
Mengkristalkan semua ingatan ini.
Aku pun tak tahu apa yang terjadi denganku malam ini, entah karena apa atau apa aku salah makan atau apa, entah apa, kepalaku penuh dengan pertanyaan. Dan hatiku gelisah, hanya melamun dan menunggu. Tapi entah apa yang aku lamunkan dan entah apa yang aku tunggu. Berulang kali aku melihat layar dihp yang tergeletak tak jauh dari jangkauan tanganku.
Berulang kali aku melihat jam dinding yang berada diatas pintu yang terbuat dari kayu jati itu, yang selalu berdetak keras dibatang ingatanku, dan diapun memberitahukan aku bahwa sudah 3 jam aku duduk termangu disini.
Aku mulai merasakan sesuatu yang aneh padaku malam ini, setelah melihat detikan jam yang pelan dan konstan. Aku mulai merasakan semua yang berada disekitar ku mulai ber gerak perlahan, setitik debu yang jatuh perlahan yang mendapatkan gaya gravitasi bumi, yang benyebar diseluruh ruang kamar, membeku dan berlahan jatuh di ujung jariku.
Berulang kali aku melihat jam dinding yang berada diatas pintu yang terbuat dari kayu jati itu, yang selalu berdetak keras dibatang ingatanku, dan diapun memberitahukan aku bahwa sudah 3 jam aku duduk termangu disini.
Aku mulai merasakan sesuatu yang aneh padaku malam ini, setelah melihat detikan jam yang pelan dan konstan. Aku mulai merasakan semua yang berada disekitar ku mulai ber gerak perlahan, setitik debu yang jatuh perlahan yang mendapatkan gaya gravitasi bumi, yang benyebar diseluruh ruang kamar, membeku dan berlahan jatuh di ujung jariku.
Memperhatikan butiran air yang turun satu persatu, menyentuh dasar tanah. Benar-benar perlahan. Tanpa suara. Bahkan aku mampu mendengar luruhnya partikel air yang mendarat pelan di ujung rumput hijau itu, dan kini aku dapat melihat setetes air itu memantulkan cahaya lampu jalanan, membelokkanya membuat pelangi indah disekitar air di ujung rumput itu, penuh warna, membekukan bibirku untuk berkata, sudah berulang kali, tanpa aku sadari sudah berulang kali.
-o0o-

Aku merebahkan badanku di atas kasur yang keras ini dan melihat lampu yang menempel dilangit-langit kamarku, bersinar terang. Posisiku ini sama seperti 2 tahun lalu, saat pertama kali aku melihatnya, pertama kali aku melihat senyum yang menyejukkan itu, dan pertama kalinya pula aku melihat mata yang penuh ketulusan, menandakan kerendahan hati dan penuh kedamaian.
“Wildan, surat permohonan izin mengadakan kegiatan untuk kepala desa kamu taruh dimana…?” suara cempreng temanku satu organisasi mengganggu tidur siangku.
“aku taruh ditempat biasa, didalam almari sekertaris,” sambil bangun dari tidur siangku, menjawab dengan masih setengah nyawaku melayang dialam mimpi. “ah.. kamu menggangu aja ren” aku menembahi jawabanku tadi dengan masih menguap karena masih mengantuk.
“lagian kamu tidur aja dari tadi , sini turun bantuin aku memisahkan berkas-berkas yang mau disebar…!” dengan wajah sok merintah reni mengancamku.
“iye..iye lagian aku semalaman nggak tidur gara-gara bikin design kartu peserta dan kartu panitia buat kegiatan besok…” aku masih duduk diatas tempat tidur yang sengaja ditaruh diatas almari karena untuk menghemat tempat disekre pramuka kami yang kecil.
“iya aku tahu…tapi kan ini seharusnya jadi tugas kamu yang jadi sekertaris umum, cepet buruan turun…!!!” seperti biasa dengan suara kerasnya ditambah wajahnya yang serem reni dengan watak kerasnya yang cocok jadi Danlap(Komanndan Lapangan) cewek membuat takut semua orang yang dibentaknya.
“ampun bos.. iya laksanakan” dengan logat ku yang sukanya bercanda.
“assalamualakum wr.wb” suara lembut seperti salju terdengar dari ruang depan sanggar.
“walaikum salam wr.wb, eh mbak nisa apa kabar mbak..?” sapa reni dengan lembut berbeda saat berteriak kepada ku.
Reni menyapa seorang kakak kelas dan juga menjadi eks dewan kepramukaan disma ku, sosok wanita agak tomboy, berkulit putih, kacamata berframe hitam tipis, cocok dengan warna bola matanya, dengan siluit cahaya matahari dari arah pintu menyempurnakan suasana, suaranya pun hangat dan ramah,.
“baik kok, hmmm lagi ngapain ini, ada yang bisa saya bantu…?” kakak itu menawarkan pertolongan kepada reni yang masih amatiran mengelompokkan surat-surat yang sudah menjadi tugasku.
“eh… halo mbak..” sambil nyengir polos karena aku belum tahu nama kakak itu.
“eh… ada orang diatas. Kirain Cuma ada reni. Eh nama kamu siapa kok aku nggak pernah lihat kamu..?” Tanya kakak itu dengan muka tulusnya yang mau bertanya nama adik kelasnya.
“nama ku wildan kak, oh iya karena aku dulu jarang latian pramuka, dan aku dilantik pramuka juga mendadak pemberitahuannya.” Jelasku.
“oww…salam kenal” dengan tersenyum dia melihatku, ”eh kamu kelas berapa..?” tanya kak nisa heran.
“kelas sebelas ipa dua, mbak. Emang kanapa mbak ?” jawabku seadanya.
“yang bener,kok kaya masih smp, wajah mu masih anak anak heheh..” jawabnya bercanda.
“hheheh banyak orang juga bilang gitu mbak heheheh.” Jawabku sambil senyum seadanya sial wajahku dibilang masih smp.
 “reni yang jadi penerusku siapa ? sekertaris dewan..” Tanya kak manis itu, sambil mendekati reni yang sibuk menata berkas.
“itu mbak yang lagi nongkrong diatas.” Sambil munjukku dengan muka lempengnya.
“oh kamu yang jadi sekertaris, gimana jadi sekertaris ..? susah ngaak?” Tanya kakak itu dangan senyum khasnya.
“ya gitu mbak… g susah sih tapi repot ngurus begitu banyak kertas.” Tukas ku dengan sedikit mencuri pandang dengannya.
Terik matahari menyala-nyala diluar, seperti mentari hendak membakar seisi bumi dengan panasnya. Sama seperti hatiku sekarang, yang panas akibat melihat cewek yang aku suka sedang satu difisi dengan mantan pacarnya yang berkulit sawo matang, berwajah cina, bermata sipit dan sok ganteng seperti artis itu. Cewek itu adalah Ross adik kelas ku waktu sma dulu. Tidak lain juga merangkap sebagai pacar ku, ross dia berada didivisi kewarganegaraan di organisasu OSIS sma ku.
Pertama kali aku mengenal ross, hmmm...kapan ya..? oh iya waktu itu ada kegiatan haiking(lintas alam) ke musium purbakala sekitar 10 km. Dan aku tidak sengaja menjadi penanggung jawab dari regu 19, ross menjadi salah satu anggotanya. Disepanjang perjalanan hanya dia yang ramah dan berusaha dekat dengan ku, cewek bertubuh ramping, berpostur tinggi, berkacamata, dengan sifat sedikit manja. Seorang wanita yang biasa saja tetapi menjadi indah dimataku.
Ossy itulah panggilan yang aku berikan kepadanya, panggilan dari penggalan kata namanya. Sejak saat kegiatan haking itulah aku mulai dekat dengannya, bertukar pesan dan teleponnan sepanjang malam. Tidak perlu waktu lama untuk menyakinkan hatiku untuk menimbangnnya, hanya 3 minggu pendekatan, aku memberanikan diri, menanyakan apakan dia mau menjadi kekasihku. Dan dia mengiyakan pertanyaanku itu dengan senyum tersipu malu.
-o0o-

Saat aku sedang berusaha mencari posisi yang pas untuk tiduran diatas sini, aku mendengar ada seseorang yang datang. Suaranya tak asing aku kenal, wanita berpostur gemuk, tinggi rata-rata cewek sma, galak bercampur dengan sifat periang. Kak noer namanya, karena dia cerewet jadi gampang kenal sama dia, dan kak noer juga sering datang dan membantu saat ada kegiatan pramuka yang kami adakan.
Kak noer teman satu angkatan dan seperjuangan di sekolah maupun di dewan kepramukaan, jadi tak butuh waktu lama untuk mendengarkan mereka berbincang dan bergosip selayaknya cewek ketemu dengan satu spesiesnya. Apa lagi si reni ikut-ikutan nimbrung, udah deh seperti api disiram bensin, tambah ramai aja suara sanggar kecil ini.
Udara panas, kegerahan ditambah kupingku panas karena mendengar suara cewek-cewek yang bergosip terlalu asik. Tidur siang ku menjadi terganggu, ahh sial niatnya mau nenangin diri malah tambah tak karuan.
“wildan...wildan... kamu dimana ? ayo latihan !” terdengar suara yang tak jelas dari mana sumbernya. Lalu muncullah orang berseragam sama seperti yang aku dan anak satu sma ini kenakan, berbadan besar, gemuk dengan lemak dimana-mana, est jangan bandingan dengan anak sapi. heheheh Eh ternyata teman sekelas sekaligus teman satu organisasi, plus teman seteam basket, futsal, serta teman akrabku. Jojo panggilannya, nama aslinya sih johan si allaly cemungut eaaa.
“wildan...jangan ngumpet kamu, ayo latihan untuk upacara besok senin ! woooooyyyy kamu dimana ?” teriak jojo keras sekali udah seperti toa masjid.
Suara cempreng, yang kenceng banget itu mengganggu suasana meditasiku, suasana penenangan diri yang sulit dari tadi aku dapatkan karena 3 cewek yang ngerumpi entah membicarakan apa, yang berada diruang tengah sanggar.
“aaaaahhhh, iye...iye aku kan lagi istirahat jo, ngganggu aja nih...aaaarrrggg” geramku kesal.
Kak nisa, kak noer, dan reni  seketika berhenti ngerumpi karena umpatan kesalku tadi, dan ketika kakak itu menatapku , seakan marah karena telah mengganggu ngerumpi mereka. Ampun bosss !. karena merasa nggak enak hati karena bersuara keras sampai menghentikan pengerumpian mereka, aku berjalan perlahan keluar lewat pintu belakang karena takut dibacok, terus di ikat lalu dibuang ‘kekawah gunung merapi’ yang masih aktif, mending lebih baik lewat jalan lain saja.
Dilapangan sudah ada beberapa temanku dari pengurus kepramukaan sudah bersiap untuk latihan upacara pembukaan. Aku yang baru datang langsung bersiap diposisiku, waktu itu aku bertugas menjadi pembaca dasa darma pramuka didampingi 3 tamanku yang bertugas membaca pancasila, pembukaan undang-undang, dan trisatya. Kami berlatih kurang serius waktu itu, menurutku lebih banyak bercandanya daripada seiusnya malah.
Karena kurang serius, kakak senior mantan pengurus kepramukaan, tepatnya anak kelas 3, membantu kami latihan dan mendampingi kami untuk latihan. Dan bahkan ada sebagian yang ikut bertugas karena kami kekurangan personil. Kak nisa juga ikut membantuku dan ke 3 temanku di barisan pembacaan. Memberi contoh dan melatih kami bersama kak noer.
Dari sinilah aku menenal kak nisa sebagai orang yang periang, dan begitu dekat dengan semua orang. Wah hangat sekali suasana saat itu, entah karena suasana obrolan kami yang terlalu bercanda atau terik matahari yang panas saat itu membakar kulit kami, entahlah. Pada siang itu juga aku merasakan ada sesuatu yang salah dan janggal dari tatapan, senyuman, cara kak nisa menyapa, caranya bicara, entahlah atau hanya hatiku saja yang membuat imajinasi-imajinasi palsu ini, mengartikan setia prasangka menjadi pembenaran terhadap hatku.
-o0o-


Bersambung....->

yang mampumenggambarkan kehidupan gw cuma puisi nya chairil anwar Aku (Chairil Anwar) Kalau sampai waktuku ‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Dan aku akan lebih tidak perduli Aku mau hidup seribu tahun lagi

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »