Mencari Cahaya [part 2 Sepucuk Surat]


 

“Siapa kau? Mangapa kau mengejarku di labirin gelap ini, apa mau mu?” tanyaku yang masih keringat dingin karena kaget setengah mati melihat sosok yang tak kenal menyerupai diriku.
“albusatera barhawa setra maha ruchi kanji nebusta” jawabnya.
“apa? Aku tak mengerti apa yang kau ucapkan, siapa kau sebenarnya?” sambil tanganku menggenggam sekuat yang ku bisa, untuk berjaga-jaga kalau dia menyerangku.
Sosok hitam itu hanya menjawab ku dengan mengeluarkan suara-suara dengan bahasa yang tak bisa ku mengerti sepatah kata pun. Dan dengan suara yang tak jelas, lebih mirip berbisik. Wajah itu menatapku dengan tatapan seakan bertanya-tanya dalam kebingungan melihatku. Apakah dia juga heran dan sama takutnya dengan ku saat mengalami kejadian ini. Itu menjadi misteri hingga saat ini.
Daarrrkkk terdengar suara pintu dibelakangku yang tergedor sangat keras dari dalam, sial!! aku seperti terkurung dengan keadaan ini, didepanku terlihat sosok hitam yang tak kukenal sama sekali, dan ditambah pintu misterius dibelakangku bergerak seakan ada seseorang yang mencoba mendobraknya.

“Ddaaarrrrkkkk” pintu itu perlahan terbuka separuh, dan ternyata dibalik pintu itu terang sekali, sampai-samapai dari pintu itu mengeluarkan cahaya yang sangat terang, sampai akupun dapat melihat dengan jelas seluruh lorong yang sebelumnya sangat gelap dan menakutkan.
Lihat itu, sosok bayangan hitam itu seperti ketakutan melihat cahaya yang kenyilaukan mata, bayangan hitam itu menjauhiku ke ujung lorong ini. Dia hanya melihatku yang merasa lega dan sedikit aman karena kejadian yang baru saja aku alami, tatapi masih ada satu lagi yang mengganggu pikiranku. Ada apa dibalik pintu misterius yang mengeluarkan cahaya yang sangat terang ini?
***
Lepas dari mulut singa, masuk mulut buaya. Ya itu perumpamaan yang cocok untuk ku saat ini, lepas dari ketakutan setegah mati oleh sosok hitam yang tak ku kenal, masuk ke bingungan dan kegelisahan akan pintu misterius yang ada dibelakang badanku ini.
Tiba-tiba aku merasa pintu itu menyedot benda-benda yang ada disekitarku, semakin lama semakin kencang dan daun pintu yang aku pegang selama ini sudah tak bisa menahanya. Aku sudah seperti debu yang tersedot ke dalam vacum alat penyedot debu.
Teryata dibalik pintu itu adalah ruangan yang sangat luas dan aku hanya melihat awan-awan yang sama seperti awan yang aku lihat selama ini. Tetapi ini sangat banyak dan ada disetiap mataku memandang, disetiap sudut ruang yang tak bisa kulihat saking luasnya. Lalu, lantainya. Tak kusangka lantainya seperti jurang dalam, jantungku merasa akan copot ketika aku jatuh didalam ruangan ini, seperti jatuh dari langit kebumi, akan tetapi tak ada ujung dasarnya.
Lalu tiba-tiba aku berhanti jatuh, mengambang diantara awan-awan yang lembut dan dingin. Susah sekali berdiri diruangan ini, awan-awan yang ku injak sangat lah lembut dan sejuk ditelapak kakiku, Dengan berusaha menyeimbangi badan untuk bisa berdiri tegak. Akhirnya aku bisa menelapak kan kakiku di atas awan yang lembut dan sejuk.
Sejauh ini aku tak melihat apa-apa selain awan, dan langit berpadu bercampur diangkasa, aku mencoba menelusuri ruangan yang hampa ini. Hai apa itu? Ada bangunan di atas awan? Dan hay aku melupakan sesuatu, sebenarnya aku ada dimana sekarang?
Aku akan melupakan sebentar masalah ini, tak ada waktu untuk memikirkan ini sekarang, aku harus secepat mungkin mencari jalan keluar dari dunia ini, aku harus kembali ke tempat asal ku berada. Seperti 2 hari yang lalu saat berlibur ke pantai dipulau yang belum terlalu ramai karena hanya sebagian orang yang tahu. Pantai yang menyimpan sejuta keingin tahuan, karena keindahan sekitarnya yang memukau belum terjamah oleh kerusakan manusia.
Lalu, aku menemukan sebuah gubuk sederhana dibawah pohon-pohon kelapa yang rindang, lalu aku penasaran kenapa ada gubuk di pinggir pantai yang rumornya tak ada penghuni. Awalnya aku hanya ingin berteduh setelah seharian menyusuri seisi pulau tak berpanghuni ini. Sambil melihat 3 temanku yangsedang asik bermain air dipinggir pantai dengan pasir yang putih lembut dan gelombang yang tak terlalu besar cukup enak untuk berenang.
Sambil tiduran didipan gubuk tiba-tiba pintu gubug itu terbuka dengan misteriusnya, saat itu aku langsung masuk untuk memeriksa kedalam gubuk sederhana ini, didalam hanya ada meja dan kursi saja yang luas ruangannya tak lebih besar dari 2 meter persegi. Tapi, aku merasakan ada yang ganjil dengan gubuk ini, ada sesuatu benda yang membuatku penasaran, sepucuk kertas lusuh berdebu dengan tulisan yang kira-kira sudah lama ditulis dikertas tersebut.
Aku membaca isi kertas tersebut :
Aku ingat, siang itu semakin lama semakin riuh dan kacau, terakhir peraturan-peraturan yang menyeretku kedalam keterpurukan telah menjelma  menjadi rubah putih yang tak sengaja terlahir menjadi dosa dan ketakutan yang selalu menghantuiku. Aku tahu bahwa selama ini kita hidup didalam dosa dan kesalahan masa lalu, yang berkesinambungan dengan kejadian yang kita alami sekarang.
Kuberikan kamu sebuah kesempatan untuk merubah dosa-dosa dan kesalahan masa lalu mu dengan pemahaman-pemahaman alam raya, menjawab keresahan-keresahan mu, kegelisahan yang membuat mu melakukan dosa-dosa itu. Berbagilah waktu dengan alam, kau akan tahu dirimu yang sebenarnya, hakikat manusia. 
Tiba-tiba sekitarku menjadi gelap dan aku sudah berada dilabirin gelap itu, yang menuntunku ke tempat ini. Ketempat yang tak ku kenali sama sekali…

                                                                                                         Part Selanjutnya...->

yang mampumenggambarkan kehidupan gw cuma puisi nya chairil anwar Aku (Chairil Anwar) Kalau sampai waktuku ‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Dan aku akan lebih tidak perduli Aku mau hidup seribu tahun lagi

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »