Mencari Cahaya [part 1 Labirin]


Sudah lama aku mencari cahaya didalam labirin gelap ini, labirin yang tak berujung, labirin yang tak memberi ku alasan untuk pulang kepadaMu. Aku berjalan terlalu lama, sebenarnya hanya itu-itu saja jalan yang ku lalui, aku kehilangan arah, kehilangan petunjuk yang Kau berikan kepadaku. Aku meraba-raba yang ada didepanku kosong, tak ada apa-apa selain dinding-dinding yang membatasi ruang gerak ku menuntun keruang yang tak kukenal.
Mencoba mendengar sekitarku yang sunyi, mencoba penglihatanku yang gelap, aku takut, gusar, dan ragu-ragu dalam setiap langkah. Tiba-tiba aku merasakan hawa sesosok makhluk berada dibelakangku, bulu kuduk ku berdiri, aliran darahku bergerak cepat. Aku tak banyak piker dan langsung berlari kalang kabut, sosok itu mengejarku, aku tak tahu pasti karena kegelapan ini pandanganku terbatas. Tapi dengan auranya yang kelam, tersa betu bahwa dia mengejarku.
Aku tak tahu sosok apa yang mengejarku itu, apa maunya, dan yang penting dimana aku sekarang? Aku tak bisa berfikir dengan jernih, ditambah dengan ketakutan setengah mati karena dikejar sosok hiatam yang menakutkan itu. Astaga dia cepat sekali, tak kuasa lagi kakiku untuk melangkah, dan sudah sejauh mana aku berlari, atau aku hanya berputar disitu-situ saja? Entahlah.

Aku panik sekali saat ini, sampai tak menyadari bahwa tembok pembatas labirin menghadang dengan kokoh didepanku. Brraaaakkk aku menabrak dinding beton yang keras,”aaaddduuhhhh sakit sekali” tapi aku tak ada waktu untuk mengeluh, sosok hitam itu semakin mendekat, apa itu? Sekilas aku melihat sosok hitam itu membawa sesuatu ditangannya, mengangkatnya seperti menodongkan sesuatu kearahku. Peluh keringat mengucur dengan deras dipelipisku, kaos putihku basah kuyup. Aku ketakutan setengah mati.
Dengan cepat aku berdiri lagi, 3 detik yang sia-sia karena menabrak dinding sialan itu, ternyta dinding itu adalah pembatas lorong, sekarang aku menyadari disebelahku ada 2 jalan yang berlawanan, diarah kanan ku dan diarah kiriku. Tak sempat ku berfikir menimbang memilih yang mana, aku kalangkabut berlari kekananku, sekuat tenaga aku berlari, memacu napas ku yang seakan mencekik paru-paru dan jantung didadaku ini. Jarak ku dangan sosok hitam itu tak melebar, malah semakin dekat padahal kecepatan lariku sudah maksimal.
Apa itu? Aku melihat setitik cahaya diujung lorong, apa kah itu jalan keluar? Aku merasa sangat senang sekali, aku menambah kecepatan lariku, memacu kedua kakiku berlari sekencang yang aku bisa dilantai labirin yang terbuat dari marmer ini. Aku semakin mendekat dengan cahaya itu, ternyata itu adalah sebuah pintu berwarna kuning emang, ternyata cahaya itu adalah refleksi dari pintu yang terbuat dari emas murni tersebut.
Aku tinggal 3 langkah lagi deri pintu besar itu, ‘daaakkk’ suara pintu yang ku tandang keras-keras tak ada waktu untuk membuka dengan lembut pintu ini, sial pintu ini terkunci! Aku harus bagai mana, ku dobrak ku dorong sekuat tenaga, pintu ini tak semili pun bergeser,  sial. Sosok hitam itu semakin mendekat. Aku bingung tak ada jalan lagi, aku terjebak dipintu sialan ini. Ya tuhan apa yang harus aku lakukan.
2 detik kemudian aku merasakan pukulan yang sangat kuat di punggung ku, akupun terjerembab jatuh menghantam pintu. Apa? Apa yang sosok hitam itu lakukan kepadaku? Badanku terasa remuk tak bisa bergerak, dengan reflek memaksakan tangan melindungi kepalaku, berjaga-jaga kalau sosok hitam itu memukul ku lagi. aku bersiap dengan mengepalkan tangan ku, akan kuluncurkan serangan balik kepada sosok hitam yang ada dibelakangku. Aku membalikkan badan dengan mengayunan tangan sekuat tenaga yang aku arahkan kekepala sosok hitam itu.
Lalu, akupun terkejut setengah mati, hampir aku terjatuh karena kaget, jantungku terasa ditujuk dengan pisau, aku menggidik, kakiku tak kuasa menompang badanku yang kaku, keringatku semakin deras keluar, gigiku bergelatuk, bergetar tanganku, aku tak percara dengan apa yang kulihat! Sosok itu? Sosok itu pakah aku tak salah lihat? Siapa dia? Siapa sebenarnya dia? Badan dan wajahnya?

Apakan itu Aku? Sosok itu menyerupai bentuk tubuhku dan wajahnya pun sama denganku, apakah aku sedang bercermin?


yang mampumenggambarkan kehidupan gw cuma puisi nya chairil anwar Aku (Chairil Anwar) Kalau sampai waktuku ‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Dan aku akan lebih tidak perduli Aku mau hidup seribu tahun lagi

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »