Mencari Cahaya [part 3 Rawa diAtas Awan]

Bangunan itu terlihat seperti masjid besar dengan kubah terbuat dari berlian sebesar bukit barisan, kubah yang terlihat seperti kaca raksasa yang tembus pandang, awan dan sinar matahari dapat masuk dengan leluiasa ke dalam bangunan indah ini. Bangunan besar berwarna putih dengan pilar-pilar besar menyangga diluar bangunan, deperti kuil zeuz didalam dongeng yunani kuno. Bangunan itu pun berstruktur berundak-undak, mempunyai beberapa lapisan, berbentuk seperti tangga yang mengelilingi bagian bawah bangunan. Aku hanya terkagum-kagum dengan bangunan yang aku lihat ini.Kamu mulai mendekatinya, aku mencoba memasuki bangunan itu. Mungkin ada jawaban dari semua peristiwa ini, atau bahkan akan menemukan jalan keluar untuk kembali ke pulau tanpa penghuni dan bertemu dengan teman-temanku yang sedang bermain dipantai.
Sudah setengah hari aku berjalan bersusah payah menjejakkan kaki ku diatas awan yang lembut, tak kukira akan sejauh ini perjalanan yang akan aku tempuh untukmencapainya. Hay, aku tak menyadarinya dari tadi ternyata awan-awan yang sebagai pijakan ku mulai meninggi, yang tadinya berada dibawah telapak kaki ku, sekarang sudah selulut, seperti melewati rawa yang luas, kakiku seperti diselimuti kabut yang tebal bahkan jari kaki ku pun tak dapat terlihat. Awan ini tidak hanya mulai meninggi, tetapi angin menuju bangunan itu juga terasa semakin kencang, angina yang keluar dari dalam bangunan seakan-akan menghalangi ku untuk mendekatinya.

Langkah demi langkahku berat, berjalan melawan angin dan berjalan dirawa awan ini terasa berat, semakin mendekat semakin dalam rawa awan ini sekarang sudah hampir sepinggang ku. Tak ada pilihan lain selain menuju bangunan raksasa itu, semakin mendekat semakin dalam rawa yang aku lewati ini. Aku terus berjalan kira-kira tiga jam dari tempat ku tadi, sekarang kedalaman rawa awan ini setinggi leherku, semakin dalam rawa ini semakin dingin, semakin jauh melangkah semakin membuat beku tubuhku.
Tak terasa aku sudah menghabisakan banyak waktu untuk melewati rawa ini, sudah hampir seharian aku habis kan waktu untuk menyebrangi rawa ini, kedalamannya pun sudah tak terkira lagi, karna sudah lama kaki ku tak meminjak pijakan dasar rawa ini. Hanya berenang-berenang dan berenang menuju kedepan tanpa memandang ke belakang, sudah berapa lama aku berenang melewati rawa diatas awan ini? Sehari kah? Bukan seingat ku hampir 7 kali aku menjumpai malam, apakah seminggu? Ahh tidak aku kira lebih dari itu mungkin 1 bulan? Mulai lagi kepalaku dipenuhu dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat seakan kepalaku akan meledak.
Aku pun heran, saat melintasi rawa awan ini aku tak merasakan lapar, mengantuk bahkan tak sedikitpun aku kelelelahan. Hanya rasa bosan yang terus menyerangku, rasa keingin tahuan ku yang menggebu-gebu dadaku seaakan mencoba mennerobos keluar semakin sesak, rasa takut yang menumpuk dipangkal leher membuat nafas tersengal, rasa marah yang tak lagi terbandung entah rasa marah ku ini aku tunjukan kepada siapa? Yang ku tahu hanya berenenag kedepan untuk mencapai bangunan yang besar dan berwarna putih itu, mungkin semua jawaban akan rasa penasaran, rasa takut, dan marahku terjawab.
***
Sudah sampai kah aku? Kakiku merasa kan dasar dari rawa ini, akhirnya kaki ku dapat meminjak, dan berlahan lahan kedalaman awan kabut ini menipis kakiku pun dapat terlihat lagi. Walaupun aku merasa sedikit senang karena tak harus berenang dirawa yang menakutkan ini, itu tak membuat jarak ku dengan bangua itu mendekat, malah seakan semakin jauh, seakan semakin berat untuk melangkah, semakin sesak untuk bernafas, semakin aku melangkah mendekat bangunan itu malah semakin menjauh, samakin aku melangkah kan kakiku menuju bangunan itu, semakin menjauh jarak nya. Akupun semakin mempercepat langkahku, semakin cepat pula bangunan itu menjauh dariku, semakin cepat, semakain cepat, semakin cepat, akupun berlari untuk mendekat.
Sampai akhirnya aku menjumpai pagar besi yang tinggi berwana emas mengelilingin bangunan tersebut, pagar yang megah dan gagah seakan menghadang setiap orang yang akan memasuki bangunan itu, pagar ini pun terlihat kokoh dan kuat walaupun tak menyentuhnya. Akupun berhenti sejenak untuk memikirkan caranya melewati pagar yang sungguh megah ini. Kulemparkan pandanganku kearah ujung pahar yang tak terlihat ujungnya sampai ujung sisi pagar satunya yang tak terlihat pula ujung pagar gagah ini.
Ya tuhan, aku tak tahu harus bagai mana lagi sekarang, apa yang harus aku perbuat? Akupun terjatuh terlentang diatas awan yang lembut dan sejuk ini, aaahhhh nyaman sekali rasanya berbaring disini. Aku pun sambil berfikir mengapa aku mengalami kejadian aneh ini, mengalami semua ini. Aku bertanya kepada hatiku yang paling dalam, bertanya kepada diriku. Apakah selama ini aku terlalu sombong untuk mengakui bahwa aku adalah mahkluk yang lemah, mahkluk yang hina, mahkluk yang tak memiliki apa-apa selain bersenang-senang dan meulupakan semua kenikmatan ini dating dari yang maha kuasa.
Semalama ini lupa akan bersyukur kepada-Nya, lupa akan memasrahkan kegelisahanku pada tuhan semesta alam, lupa akan bersujud dan berdoa kepada-Nya. Perlahan pun aku mulai mengadahkan tangan ku, memohon dan berdoa, bertanya dan mengaduh kan semua kegelisahan ku selama ini, memohon ampun atas kesalahanku yang terdahulu, semoga Tuhan mengampuni dan menjawab semua pertanyaan akan kegelisahan ku saat ini, berlahan-lahan hatiku serasa ditusuk ribuan jarum, air matakupun mengucur deras tak terbendung, dadaku sesak, betapa hina diriku yang tak pernah menyadari bahwa semua ini adalah peringatan dari tuhan untuk ku.
Sekejap dipikiranku melambung kemasa-masa lalu mengali menyusuri setiap sel-sel memori dalam otak ku, seperti melihat rekaman video tape saat memutar ulang semua kaset film nya, terlihat jelas semua perbuatan masa laluku. Aku pun malu untuk mengakui bahwa itu adalah diriku, aku malu mengakui seonggok daging yang hina ini adalah tubuhku. Ya tuhan tunjukkan lah jalan yang benar. Tunjukkan kemudahan kepada hmabamu ini, aku memohon dan bersimpuh pasrah kepadamu, tolong berikan petunjuk mu.
Setelah berdoa dengan ikhlas dan penuh penyesalan. Belum sembuh sakit didadaku setelah berdoa kepada tuhan, aku melihat seseorang yang datang menghampiriku dari balik pagar besi itu, mendekat kearahku. Lalu, dengan suara lantang dia bertanya kepadaku.
“wahai anak ku maukah kau ikhlas menerima semua yang akan aku tunjukkan kepada mu?”
“saya ikhlas, siapa dirimu?” jawabku heran.
“aku akan menunjukkan jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan yang ada dihatimu nak, pertanyaan yang selama ini menyiksa dirimu, aku akan menjawab tuntas semuanya, tapi dengan satu syarat, jangan bertanya apa-apa tentang diriku lagi, bahkan bertanya namaku, sebelum aku memberi tahu diriku yang sebenernya, apakah kamu setuju?” kata seseorang dibalik pagar.
“baiklah, aku kan menuruti persyaratan mu, tapi sebelumnya aku meu bertanya, tempat apa ini? Dimana kita sekarang?” tanyaku.
“kau akan mengetahuinya nanti nak, apa yang membuatmu lama sekali untuk datang ketempat ini nak? Hampir 3 tahun aku menunggu mu disini” jawabnya sampil mencari kunci untuk membuka gerbang itu.
“apa 3 tahun? Selama itukah waktu yang aku habis kan untuk melewati rawa ini? tempat apa sebenarnya ini?” tanyaku yang keheranan bercampur tak percaya.

Bersambung....

yang mampumenggambarkan kehidupan gw cuma puisi nya chairil anwar Aku (Chairil Anwar) Kalau sampai waktuku ‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Dan aku akan lebih tidak perduli Aku mau hidup seribu tahun lagi

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »