Kegembiraan Dibalik Musibah Banjir Des 2014

Perjuangan Mencari Makan
Setelah seminggu bandung dibungkus hujan, kecemasan beberapa hari ini datang menghampiri, banjir menggenang lagi rumahku, Banjir akhir tahun ini hampir sebesar tahun 2012 lalu yang menggenang lantai satu setinggi lutut. Bedanya bila tahun 2012 banjir menggenang griya hanya dua samapai tiga jam saja setelah itu surut dengan cepat. Tetapi banjir kali ini lebih dahsayat, selama kurang lebih 5 hari air setinggi lutut menggenang griya. Peristiwa ini menampar keras wajahku, aku sungguh malu dan merasa tak tahu diri, selama ini aku bersikap acuh dan mementingkan diriku sendiri saat tinggal digriya.
Setelah mengalami penderitaan banjir ini aku sadar bahwa aku belum memberikan sesuatu yang lebih kepada griya, aku masih bersikap griya hanya sebagai tempat kos, belum menganggap griya sebagai rumah. Kanapa? Karena selama seminggu ini aku melalui musibah ini bersama teman-teman griya, menderita bersama, dan melewati nya bersama.

Awalnya aku sedikit kecewa, ketika griya ini mengalami musibah tetapi penghuninya malah mengungsi dan bahkan tega meninggalkannya pulang ke kampung halaman, benar juga itu hak mereka untuk tak memilih tinggal digriya yang keadaanya banjir dan listrik mati atau tetap tinggal untuk melewatinya bersama keluarga. Tinggal satu atap membuat kita mau saling berbagi, berbagi kesenangan, berbagi kesedihan bersama-sama melewati musibah ini, itu yang aku rasa saat ini.
“Seseorang akan perduli dengan lingkunganya ketika dia membuka diri untuk merasakan kesusahan orang lain yang ada disekitarnya. Itulah yang membuat kita di sebut manusia.”  -Imannda Kusuma Putra-

Buset (dapet darimana itu quote), itu yang aku rasakan saat ini aku baru sadar bahwa sikap perduli itu mahal, sikap perduli itu dibutuhkan digriya ini. Lebih tepatnya untuk kondisi saat ini, ketika adik-adik baru yang masuk griya mempunyai kebiasaan acuh terhadap lingkungan barunya. Ini tugas ku dan teman-teman yang lain sebagai kakak tinggat memberikan rasa nyaman terhadap mereka, dan membuat suasana griya menjadi nyaman seperti dulu lagi.
Banjir hamper seperut
Penyelamatan Motor
Griya Banjir

Masak-masak untuk makan malam
Makan malam bersama keluarga yang masih bertahan digriya
Keceriaan dibalik musibah
Olahraga Air di Griya
Seru banget, walau nggak ikut.

I am a person who has an inters in art, writing, technology and social activities. I concern to make some artwork, design an ads and illustration, take a photos, and etc. In writing, i like to write event reports, blog feeds, articles, reviews, content writing and some news features. In technology, i like to combine art and technology like making program, website, animation and other projects. In social activities, i like to analyze the social issue by looking at the phenomenon around, and contribute something useful to society. I can learn fast and I have good communication skills for promotional needs or presentations and can work individually or teamwork. During college, I joined several organizations, committees and communities in the social, environmental and art fields. I always wanted to keep challenging myself and looking for something new so I could develop my passion and my skills to become a more creative and productive person.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Kegembiraan Dibalik Musibah Banjir Des 2014

Perjuangan Mencari Makan
Setelah seminggu bandung dibungkus hujan, kecemasan beberapa hari ini datang menghampiri, banjir menggenang lagi rumahku, Banjir akhir tahun ini hampir sebesar tahun 2012 lalu yang menggenang lantai satu setinggi lutut. Bedanya bila tahun 2012 banjir menggenang griya hanya dua samapai tiga jam saja setelah itu surut dengan cepat. Tetapi banjir kali ini lebih dahsayat, selama kurang lebih 5 hari air setinggi lutut menggenang griya. Peristiwa ini menampar keras wajahku, aku sungguh malu dan merasa tak tahu diri, selama ini aku bersikap acuh dan mementingkan diriku sendiri saat tinggal digriya.
Setelah mengalami penderitaan banjir ini aku sadar bahwa aku belum memberikan sesuatu yang lebih kepada griya, aku masih bersikap griya hanya sebagai tempat kos, belum menganggap griya sebagai rumah. Kanapa? Karena selama seminggu ini aku melalui musibah ini bersama teman-teman griya, menderita bersama, dan melewati nya bersama.

Awalnya aku sedikit kecewa, ketika griya ini mengalami musibah tetapi penghuninya malah mengungsi dan bahkan tega meninggalkannya pulang ke kampung halaman, benar juga itu hak mereka untuk tak memilih tinggal digriya yang keadaanya banjir dan listrik mati atau tetap tinggal untuk melewatinya bersama keluarga. Tinggal satu atap membuat kita mau saling berbagi, berbagi kesenangan, berbagi kesedihan bersama-sama melewati musibah ini, itu yang aku rasa saat ini.
“Seseorang akan perduli dengan lingkunganya ketika dia membuka diri untuk merasakan kesusahan orang lain yang ada disekitarnya. Itulah yang membuat kita di sebut manusia.”  -Imannda Kusuma Putra-

Buset (dapet darimana itu quote), itu yang aku rasakan saat ini aku baru sadar bahwa sikap perduli itu mahal, sikap perduli itu dibutuhkan digriya ini. Lebih tepatnya untuk kondisi saat ini, ketika adik-adik baru yang masuk griya mempunyai kebiasaan acuh terhadap lingkungan barunya. Ini tugas ku dan teman-teman yang lain sebagai kakak tinggat memberikan rasa nyaman terhadap mereka, dan membuat suasana griya menjadi nyaman seperti dulu lagi.
Banjir hamper seperut
Penyelamatan Motor
Griya Banjir

Masak-masak untuk makan malam
Makan malam bersama keluarga yang masih bertahan digriya
Keceriaan dibalik musibah
Olahraga Air di Griya
Seru banget, walau nggak ikut.