Liburan Telah Tiba


Akhir desember ini aku merasa seperti ada beban berat yang lepas dari pundak ku, sesuatu yang sangat berat aku pikul selama ini. Lebay. Setelah keluar diujian terakhir rasanya seperti balon yang terbang ke udara, ringan sekali rasanya. Ujian terakhirku adalah presentasi tugas besar Software Project 2, yang sudah seperti uji nyali ditempat anggker, bedanya kalo diTV ujinyalinya diganggu sama jin dan teman-temannya, kalo presentasi kali ini uji nyalinya bertahan dengan tiga dosen penguji, ya seperti sidang TA(Tugas Akhir) gitu lah. Bedanya kalo TA itu menentukan kelulusan kuliah, kalau sidang tugas besar menentukan kelulusan matakuliah.
Jika aku hanya mengambil matakuliah disemester lima, aku tidak akan melaksanakan UAS karena semuanya diganti dengan presentasi tugas besar. Enak sekali rasanya kalau tidak ada uas ya, ahahha. Tetapi karna semester satu ku hancur, dan disemester tiga aku mengulang matakuliah yang nilainya merah itu, aku terpaksa mengambil mata kuliah yang aku tinggalkan disemester tiga lalu. Jadi disemester ganjil aku belajar bersama adik tingkat, sedih sekali nasib ku.

Belajar dengan adik tingkat itu ada enaknya ada sedihnya, enaknya bisa deket dengan adek-adek tingkat, masih berasa muda, dan bisa modus ndeketin adek tingkat khususnya ceweknya. Sedihnya pasti dianggap sebagai mahasiswa bodoh yang mengulang matakuliah, padahalkan belum ngambil, tapi kebanyakan mahasiswa type ini ngakunya memperdalam matakuliah tersebut. Speak.

Masa sulit sudah terlewati, dan tentunya liburan didepan mata. Liburan yang hanya tiga minggu ini aku bingung mau berlibur kemana. Aku taka mu menyia-nyiakan liburan yang selama ini sulit didapatkan. Aku ingin melupakan semua urusan perkuliahan untuk rileks sejenak merefresh otak dengan pemikiran baru serta semangat perjuangan yang baru. Selamat berlibur.

yang mampumenggambarkan kehidupan gw cuma puisi nya chairil anwar Aku (Chairil Anwar) Kalau sampai waktuku ‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Dan aku akan lebih tidak perduli Aku mau hidup seribu tahun lagi

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »