Resensi Novel Raditya Dika - KOALA KUMAL (Review)

Judul : Koala Kumal
Penulis : Raditya Dika
Penerbit : Gagasmedia
Tahun Terbit : 2015
Halaman : 250 hlm
Harga : Rp 59,500
Sinopsis : Selain main perang-perangan, gue, Dodo, dan Bahri juga suka berjemur di atas mobil tua warna merah yang sering diparkir di pinggir sungai samping kompleks. Formasinya selalu sama: Bahri dan gue tiduran di atap mobil, sedangkan Dodo, seperti biasa, agak terbuang, di atas bagasi. Kadang kami tiduran selama setengah jam. Kadang, kalau cuaca lagi sangat terik, bisa sampai dua jam. Kalau cuacanya lagi sejuk dan tidak terlalu terik, kami biasanya sama-sama menatap ke arah matahari, memandangi langit sambil tiduran.
     Kalau sudah begini, Bahri menaruh kedua tangannya di belakang kepala, sambil tiduran dia berkata, ‘Rasanya kayak di Miami, ya?’ ‘Iya,’ jawab gue. ‘Iya,’ jawab Dodo. Kami bertiga gak ada yang pernah ke Miami. Koala Kumal adalah buku komedi yang menceritakan pengalaman Raditya Dika dari mulai jurit malam SMP yang berakhir dengan kekacauan sampai bertemu perempuan yang mahir bermain tombak.

Setiap orang pasti akan mengalami patah hati yang mengubah cara pandangnya dia terhadap cinta seumur hidupnya. Cara dia ngelihat cinta akan berbeda semenjak patah hati itu - Page 207
     Koala Kumal masih seperti buku-buku Radit yang terdahulu, seluruh cerita berdasarkan kisah nyata yang pernah dialami Radit. Dan masih sama seperti yang terdahulu, Radit masih mencoba menulis komedi pakai hati. Setiap buku Radit yang akan terbit, yang paling saya nantikan adalah Apa-sih-judulnya? Analogi tersembunyi apa lagi yang bakal hadir dalam judul bukunya? Analogi tersembunyinya memang ngga jauh-jauh sih dari urusan hati. Masih ingat analogi Marmut Merah Jambu dan Manusia Setengah Salmon? Seperti ini :
Marmut Merah Jambu  : Cinta itu kaya marmot lucu warna merah jambu yang berjalan di sebuah roda seolah berjalan jauh tapi ga kemana-kemana gak tahu kapan berhenti.
Manusia Setengah Salmon : Untuk melakukan pencapaian lebih, kita tak bisa hanya bertahan di tempat yang sama. Tidak ada kehidupan lebih baik yang bisa didapatkan tanpa melakukan perpindahan. Mau tak mau, kita harus seperti ikan salmon. Tidak takut pindah dan berani berjuang untuk mewujudkan harapannya. Bahkan, rela mati di tengah jalan demi mendapatkan apa yang diinginkannya. Ternyata untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, gue gak perlu menjadi manusia super. Gue hanya perlu menjadi manusia setengah salmon “berani pindah”

     Cerita cinta Radit juga tak luput dikisahkan dalam buku ini, setengah bab dari buku ini berisi kisah cinta Radit yang manis-manis-ngenes. Bab Balada Lelaki Tomboi, diceritakan Radit pacaran sama seorang cewe tomboi yang pandai bermain tombank, bernama Deska, ujung-ujungnya mereka putus—Deska yang mutusin—karena Deska menemukan orang baru, Deska gampang berpaling.
Problemnya, bukan mencari orang yang lebih baru, tetapi untuk memperjuangkan yang nyaman. – Page 68Perlu berapa kali diselingkuhi agar kita kuat menghadapi patah hati? – page 68
     Saya ngga nyadar kalau sebenarnya cerita-cerita dalam buku ini memiliki satu benang merah yang sama : tentang patah hati. Ya, bab terakhir—Koala Kumal—menjawab semua tanda tanya. Di bab terakhir diceritakan makna dibalik judul Koala Kumal.
                                                                           Pics from here
     Gue jadi teringat satu foto di situs Huffington Post. Ada seekor koala yang tinggal di New South Wales, Austalia. Koala itu bermigrasi dari hutan tempat tinggalnya. Beberapa bulan kemudian, ia kembali ke hutan tempat dia tinggal. Namun, ternyata selama dia pergi, hutan yang pernah menjadi rumahnya ditebang, diratakan dengan tanah oleh para penebang liar. Si koala kebingungan kenapa tempat tinggalnya tidak seperti dulu. Ia hanya bisa diam, tanpa bisa berbuat apa pun. Seorang relawan alam mengambil foto koala itu. Jadilah foto seekor koala kumal duduk sendirian. Memandangi sesuatu yang dulu sangat diakrabinya dan sekarang tidak lagi dikenalinya. – page 246.
     Saya ngga terlalu banyak tertawa dalam membaca buku ini, for me, buku ini lebih banyak buat kita mikir dan nyetujuin apa yang ditulis Radit oh iya ya.. benar juga. Gitu. Gaya penulisannya memang santai tapi bisa juga dibilang serius, dari Radit kita bisa belajar dari pengalaman-pengalaman menarik, ngenes sampai absurdnya yang berani ia tuangkan dalam buku. Terutama belajar urusan tentang hati. Dua quotes ini stuck di kepala saya :
     Selalu, yang baru akan terlihat lebih baik daripada yang lama – page 68
     Gue tidak mau seperti seekor koala kumal yang pulang ke tempat yang dulu nyaman untuknya, menyadari bahwa tempat itu telah berubah, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. -  page 246.
     Saya ngga tau harus nulis apa lagi, yang jelas kalimat Komedi Pakai Hati yang diucapkan Radit bukan hanya sekedar kalimat omong kosong, Radit benar-benar melakukannya. Radit tidak hanya menghasilkan karya yang buat orang ha-ha-hi-hi sejenak terus beberapa saat kemudian lupa, tapi ia secara sadar-ngga sadar membuat karya sekaligus memberi pelajaran yang tersurat kepada penikmat karyanya tanpa membuat penikmat tersebut merasa digurui.

     ‘Persis kayak jodoh, ya’ kata Avi. ‘Kadang di tempat yang gak diduga bisa ketemu, ya’
     ‘Persis kayak jodoh juga.’ Kata gue. ‘Kadang di tempat terbaik sekalipun bisa tidak ketemu’ – Page 105


yang mampumenggambarkan kehidupan gw cuma puisi nya chairil anwar Aku (Chairil Anwar) Kalau sampai waktuku ‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Dan aku akan lebih tidak perduli Aku mau hidup seribu tahun lagi

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »