“Generasi Berbagi"


Dan aku melihatnya, menjadi saksi atas generasi kita yang kusebut generasi berbagi. Aku melihat gejala kedermawanan itu muncul di setiap wajah yang kita sebut kaum muda. Di setiap saat setiap orang bisa saja berbagi, dengan begitu mudahnya membobol tembok rahasia menjadi miliki bersama. Lalu nampaklah, satu persatu semua menjadi semakin jelas apa yang ada di dalamnya. Sebuah ruang intim yang tak lagi intim. Tak bersekat, tak berjarak, sungguh begitu dekat, begitu mesra.
Lalu kulanjutkan dan mungkin kau akan bertanya-tanya, apakah yang sama-sama kita bagi? Ia-kah yang kita dermakan berupa semangat hayati hidup bersama? Ia-kah kisah-kisah indah antara pangeran dan tuan putri? Ia-kah tentang keberanian hidup untuk menjawab setiap tanya tentang hari esok yang tak pernah pasti akan hidup atau mati?
Ingin kusudahi namun tetap kubertanya, apakah kita berderma tentang kisah-kisah indah penuh bahagia yang terjadi dalam hidup kita namun hanya menyulut api cemburu bagi jelata? Di lantai merah, kita sering bercerita tentang kenikmatan-kenikmatan dan keindahan dunia. Betapa megahnya, betapa canggihnya, betapa lezatnya, betapa mahalnya, betapa mesranya, betapa, betapa, dan betapa hingga segalanya menjadi hampa.
Generasiku, generasi berbagi yang begitu mesra dalam cumbu kehampaan. Dekat dalam berjauhan. Erat dekapan kemajuan zaman. Rekat dalam memisahkan. Kuat dalam melemahkan. Penuh tawa membuat kesedihan. Rendah hati untuk menyombongkan. Dan sungguh tiadalah aku berhak untuk berucap apa-apa karena untukmu itu pun hak. Aku hanya berdoa agar segala sesuatunya bagiku tak lagi menjadi hampa di antara hiruk-pikuk generasiku yang pandai tertawa dalam tangis dan menangis dalam tawa.


yang mampumenggambarkan kehidupan gw cuma puisi nya chairil anwar Aku (Chairil Anwar) Kalau sampai waktuku ‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Dan aku akan lebih tidak perduli Aku mau hidup seribu tahun lagi

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »